Prof. Nairobi: Lonjakan Ternak Lampung Besar, Siapa Menikmati Kue Ekonominya?

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Prof. Nairobi. Ilustrasi: Rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Prof Nairobi, menilai momentum Idul Adha di Lampung tidak hanya menjadi puncak spiritual keagamaan, tetapi juga telah menjelma sebagai “musim panen” ekonomi bagi ekosistem peternakan.

“Idul Adha di Lampung bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum ekonomi bagi peternak, pedagang, hingga pelaku usaha besar,” ujarnya kepada media rembes.com pada Sabtu, (30/5/2026).

Bacaan Lainnya

Hal itu tercermin dari lonjakan signifikan permintaan hewan kurban asal Lampung pada 2026.

Berdasarkan data lalu lintas ternak antarprovinsi dan antarkabupaten/kota, penjualan sapi kurban tahun ini mencapai 60.429 ekor atau naik 40,15 persen dibandingkan tahun 2025 yang tercatat 43.116 ekor.

Kenaikan juga terjadi pada ternak kerbau, dari 242 ekor pada 2025 menjadi 337 ekor pada 2026 atau meningkat 39,25 persen.

Lonjakan tertinggi terjadi pada penjualan domba, dari 1.764 ekor pada 2025 menjadi 3.912 ekor pada 2026 atau meningkat hingga 121,76 persen.

Sementara itu, penjualan kambing mengalami penurunan tipis, dari 143.335 ekor pada 2025 menjadi 139.917 ekor pada 2026 atau turun sekitar 2,38 persen.

Penurunan tersebut diduga dipengaruhi pergeseran preferensi masyarakat yang mulai beralih ke sapi, kerbau, dan domba untuk kebutuhan kurban.

Data tersebut bersumber dari laporan lalu lintas ternak serta Asosiasi Peternak dan Pengemuk Sapi Indonesia (APPSI) Wilayah Lampung.

Distribusi ternak asal Lampung tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menjangkau berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat, hingga Sumatera Selatan.

Sementara untuk kambing dan domba, pengiriman juga dilakukan ke Kalimantan Tengah selain wilayah Sumatera dan Jawa.

Prof Nairobi menilai lonjakan pengiriman sapi dari 43.116 ekor pada 2025 menjadi 60.429 ekor pada 2026 menunjukkan bahwa kue ekonomi Idul Adha tahun ini semakin besar.

“Pertanyaannya, siapa yang menikmati potongan terbesar, apakah peternak kecil, pedagang pengumpul, atau pedagang besar,” katanya.

Ia menjelaskan, struktur rantai pasok ternak di Lampung masih bertumpu pada pola klasik. Peternak kecil memelihara ternak dalam jumlah terbatas, lalu menjualnya kepada tengkulak atau pedagang pengumpul di tingkat desa.

Selanjutnya, ternak dipasok ke pedagang besar atau jaringan jagal di kota maupun luar daerah.

Meningkatnya permintaan dari wilayah seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga berbagai provinsi di Sumatera turut mendorong kenaikan harga bobot hidup sapi.

Secara teori, kenaikan harga dan volume ini seharusnya meningkatkan surplus produsen di tingkat peternak.

Namun, dalam praktiknya, pasar yang masih dikuasai perantara membuat transmisi harga ke peternak tidak berjalan secara penuh.

“Pedagang besar menguasai informasi harga lintas daerah, akses transportasi, dan modal kerja, sehingga memiliki posisi lebih kuat dalam rantai pasok,” jelasnya.

Menurutnya, pedagang dapat memanfaatkan disparitas harga antara Lampung dan wilayah konsumsi seperti Jabodetabek, dengan membeli pada harga relatif rendah di desa dan menjual dengan margin lebih tinggi di kota.

Meski menanggung biaya logistik dan risiko, skala usaha yang besar membuat mereka mampu mengompensasi hal tersebut.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketimpangan, di mana saat kue ekonomi membesar, porsi terbesar justru dinikmati aktor yang menguasai jaringan dan informasi.

Meski demikian, Prof Nairobi menegaskan Idul Adha tetap memiliki arti penting bagi peternak kecil karena mampu mempercepat perputaran modal dan membantu kebutuhan ekonomi rumah tangga.

Ia juga menyoroti inisiatif sejumlah organisasi masyarakat, masjid, dan komunitas yang membeli langsung dari peternak sebagai langkah positif.

“Ketika rantai dipendekkan, manfaat untuk peternak bisa meningkat signifikan, meski praktik ini masih sporadis,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong penguatan koperasi peternak, akses pembiayaan, serta transparansi harga lintas daerah.

“Ke depan, bukan hanya Lampung yang dikenal sebagai lumbung ternak nasional, tetapi juga peternaknya yang benar-benar merasakan kesejahteraan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *