Perdamaian AS-Iran Bawa Angin Segar bagi Ekonomi Lampung

Guru Besar Dalam Bidang Ekonomi Publik sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila) Prof. Dr. Nairobi, S.E.,M.Si. Dok: Ist.

Rembes.com, Bandar Lampung – Meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai membawa angin segar bagi perekonomian global, termasuk Indonesia dan Provinsi Lampung.

Guru Besar Ekonomi Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila), Prof. Dr. Nairobi, mengatakan kesepakatan damai yang dicapai kedua negara pada pertengahan Juni 2026 membuka peluang terciptanya stabilitas ekonomi dunia melalui kembali normalnya jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.

Bacaan Lainnya

Menurut Nairobi, meski perang telah dihentikan, kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai perdamaian yang sepenuhnya permanen.

“Masih terdapat sejumlah persoalan strategis yang belum selesai, seperti isu nuklir Iran, keamanan kawasan Timur Tengah, posisi Israel, hingga keberadaan kelompok-kelompok proksi. Karena itu, kondisi saat ini lebih tepat disebut sebagai perdamaian yang rapuh,” ujarnya pada Jumat, (26/6/2026).

Ia menjelaskan, peluang perdamaian tetap bertahan cukup besar karena seluruh pihak memiliki kepentingan untuk menghindari konflik baru.

Amerika Serikat membutuhkan stabilitas pasokan energi dunia, sementara Iran membutuhkan pemulihan ekonomi melalui terbukanya kembali akses perdagangan internasional.

Di sisi lain, negara-negara lain juga berkepentingan menjaga stabilitas kawasan karena kondisi Timur Tengah sangat berpengaruh terhadap harga minyak dunia, biaya logistik, hingga pertumbuhan ekonomi global.

Meski demikian, Nairobi mengingatkan risiko konflik belum sepenuhnya hilang.

“Jika terjadi satu insiden besar yang melibatkan aktor-aktor di kawasan, konflik dapat kembali meningkat. Karena itu, stabilitas yang ada saat ini tetap harus dipandang sebagai kondisi sementara,” katanya.

Indonesia Berpeluang Memperkuat Ekonomi

Nairobi menilai Indonesia memasuki masa meredanya konflik dengan kondisi ekonomi yang relatif baik.

Pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, dan tingkat kemiskinan menunjukkan tren penurunan meski tekanan global masih membayangi.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk memanfaatkan momentum stabilitas global.

Ia menjelaskan, jika harga minyak dunia kembali stabil, pemerintah akan memperoleh ruang fiskal yang lebih longgar karena beban subsidi energi dapat berkurang.

Selain itu, dunia usaha juga akan menikmati biaya distribusi yang lebih rendah, sementara pasar keuangan diperkirakan menjadi lebih kondusif karena menurunnya risiko geopolitik.

“Stabilitas ini dapat membantu menjaga nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena.

“Masa damai seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat cadangan energi, menjaga disiplin fiskal, dan mempercepat hilirisasi industri. Jangan sampai pemerintah menganggap risiko telah benar-benar berakhir,” tegasnya.

Lampung Dinilai Berpotensi Mendapat Manfaat

Nairobi mengatakan Provinsi Lampung termasuk daerah yang berpotensi merasakan dampak positif dari stabilitas kawasan Timur Tengah.

Hal itu karena struktur ekonomi Lampung masih bertumpu pada sektor pertanian yang sangat dipengaruhi biaya energi, pupuk, transportasi, dan logistik.

Ia menyebutkan perekonomian Lampung pada 2025 tumbuh sekitar 5,28 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp523 triliun.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurut Nairobi, apabila harga energi tetap stabil maka biaya distribusi hasil pertanian juga akan menurun.

Kondisi tersebut diyakini mampu menekan inflasi pangan sekaligus meningkatkan keuntungan petani kopi, singkong, kelapa sawit, dan pelaku usaha agro lainnya.

“Daya beli masyarakat dapat meningkat dan peluang penurunan angka kemiskinan di pedesaan juga semakin besar,” katanya.

Ia mendorong Pemerintah Provinsi Lampung segera memanfaatkan momentum tersebut melalui peningkatan efisiensi logistik, pembangunan jalan produksi, penguatan irigasi, serta percepatan hilirisasi komoditas pertanian.

Selain itu, penguatan kelembagaan petani dinilai penting agar manfaat dari membaiknya kondisi global dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Jika Lampung mampu menghubungkan stabilitas global dengan reformasi di tingkat daerah, maka momentum geopolitik ini dapat berubah menjadi keuntungan pembangunan yang nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *