Pelatihan Jurnalistik Unila, Sahroni Tekankan Foto Jurnalistik Harus Berbasis Fakta dan Beretika

Sahroni Yusuf langsung praktek langsung bersama peserta diklat jurnalistik. Foto: Wildanhanafi/rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Universitas Lampung (Unila) menggelar pelatihan jurnalistik dan fotografi bagi pengelola kehumasan di lingkungan kampus pada Rabu, (29/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Lantai II Gedung Rektorat itu mengusung tema Penguatan Kapasitas Kehumasan Kampus, Wujudkan Komunikasi Publik Unila yang Adaptif dan Berdampak.

Bacaan Lainnya

Pelatihan tersebut menghadirkan Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung, Sahroni Yusuf, sebagai narasumber materi karya jurnalistik dan fotografi jurnalistik.

Dalam paparannya, Sahroni menekankan bahwa fotografi jurnalistik terus berkembang mengikuti dinamika peristiwa dan kebutuhan media.

Menurut dia, tren foto jurnalistik tidak lagi semata menampilkan inti sebuah peristiwa, tetapi juga mampu menghadirkan sisi lain yang memiliki nilai berita.

Dalam peliputan olahraga, misalnya, media internasional kerap memilih ekspresi pelatih atau manajer dibandingkan momen pertandingan karena dinilai lebih kuat dalam menggambarkan situasi.

“Tren foto jurnalistik terus berubah. Yang dicari bukan hanya peristiwanya, tetapi bagaimana sebuah foto mampu bercerita dan memiliki nilai berita,” kata Sahroni.

Ia menjelaskan, fungsi utama foto jurnalistik adalah menyampaikan informasi secara utuh.

Karena itu, sebuah foto harus mampu memuat unsur 5W+1H melalui satu bingkai gambar sehingga pembaca dapat memahami peristiwa tanpa bergantung sepenuhnya pada teks.

Berbeda dengan karya tulis yang masih dapat mengalami proses penyuntingan, kata Sahroni, foto jurnalistik merekam fakta apa adanya.

Karena itu, fotografer dituntut memiliki kepekaan dalam memilih momen yang benar-benar merepresentasikan sebuah kejadian.

“Foto jurnalistik adalah gambaran nyata sebuah peristiwa. Yang ditampilkan harus sesuai fakta dan tidak boleh dimanipulasi,” ujarnya.

Selain mengedepankan fakta, Sahroni mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik.

Ia menegaskan masih banyak batasan yang harus dipatuhi fotografer, terutama dalam peliputan peristiwa yang melibatkan korban.

Menurut dia, media tidak boleh menampilkan secara terbuka wajah anak di bawah umur yang menjadi korban tindak pidana maupun korban kekerasan.

Begitu pula foto yang memperlihatkan darah, jenazah, atau adegan kekerasan secara eksplisit harus dihindari karena bertentangan dengan prinsip etika jurnalistik.

“Foto jurnalistik tidak hanya harus informatif, tetapi juga menghormati martabat manusia. Etika menjadi batas yang tidak boleh dilanggar,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sahroni juga menjelaskan berbagai jenis foto jurnalistik yang umum digunakan media massa.

Salah satunya adalah spot news, yakni foto yang merekam peristiwa tak terduga seperti bencana alam, kecelakaan, konflik, atau kerusuhan.

Menurut dia, foto jenis ini memiliki nilai berita paling tinggi karena mengabadikan momen yang tidak dapat diulang.

Seorang fotografer dituntut memiliki insting, kecepatan, serta kemampuan membaca arah sebuah peristiwa agar mampu menghasilkan gambar yang bernilai jurnalistik.

“Fotografer harus mampu mengantisipasi sebuah peristiwa. Kemampuan itu diperoleh dari pengalaman, latihan, dan kepekaan membaca situasi,” ujarnya.

Selain spot news, Sahroni menjelaskan jenis foto berita yang lazim digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan seremonial, konferensi pers, hingga aktivitas pemerintahan.

Ada pula feature photo yang lebih menonjolkan sisi human interest, budaya, dan kehidupan sehari-hari sehingga mampu menghadirkan cerita di balik sebuah gambar.

Melalui pelatihan tersebut, Unila berharap kapasitas sumber daya manusia di bidang kehumasan semakin meningkat, sehingga informasi yang disampaikan kepada publik tidak hanya cepat dan akurat, tetapi juga dikemas melalui karya jurnalistik dan fotografi yang profesional, beretika, serta mampu memperkuat citra institusi di ruang publik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *