Sejenak Jadi Cerita: Hangatnya Setahun Kepengurusan IJP Lampung

Sambutan Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa. Foto: Wildanhanafi/rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Suasana siang itu di Ruang Sungkai, Balai Keratun, Bandar Lampung, terasa berbeda. Tidak ada jarak kaku antara pengurus dan anggota.

Tawa kecil bersahutan, sesekali diselingi obrolan ringan para jurnalis yang sehari-hari terbiasa berkejaran dengan waktu dan berita.

Bacaan Lainnya

Perkumpulan Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung merayakan satu tahun kepengurusan periode 2025–2028 pada Selasa, (23/6/2026).

Perayaan sederhana itu menjadi ruang jeda bukan hanya untuk bersyukur, tetapi juga mengingat kembali alasan mereka memilih profesi yang kerap menuntut ketegangan sekaligus ketelitian.

Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, berdiri di hadapan anggota dengan nada suara yang tenang. Ia tidak banyak retorika.

Baginya, satu tahun bukan sekadar hitungan waktu, melainkan fase membangun kepercayaan di antara sesama jurnalis.

“Ini proses membangun fondasi. Kita bersyukur tetap solid, saling mendukung, dan menjaga profesionalisme,” kata Abung.

Di tengah arus informasi digital yang semakin cepat, ia mengingatkan bahwa kerja jurnalistik tidak boleh ikut larut dalam kecepatan semata.

Akurasi dan tanggung jawab, menurut dia, tetap menjadi pijakan utama.

Bagi sebagian anggota, IJP bukan hanya organisasi profesi.

Ia menjadi ruang berbagi cerita tentang tekanan liputan, tenggat yang sempit, hingga dilema menjaga independensi saat berhadapan dengan sumber berita yang dekat secara struktural.

Momentum tasyakuran ditandai dengan pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun. Sederhana, namun sarat makna.

Di momen itu, para jurnalis yang biasa berdiri di balik peristiwa, justru menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Abung menyebut kebersamaan sebagai kekuatan utama organisasi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan menjadi mitra strategis pemerintah, tanpa kehilangan independensi sebagai pers.

Memasuki tahun kedua, IJP Lampung menargetkan penguatan kapasitas jurnalis dan perluasan sinergi dengan berbagai pihak.

Namun di balik target itu, ada hal yang lebih mendasar menjaga marwah profesi di tengah perubahan lanskap media.

Di ruangan itu, kebersamaan terasa hangat. Bagi mereka, mungkin inilah satu-satunya waktu untuk berhenti sejenak, sebelum kembali ke ritme kerja yang tak pernah benar-benar selesai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *