Dari Panggung Rock ke Dapur Hangat, Cara Ahi Kohar Menyapa Kehidupan dengan Rasa

Senyum ceria Ahi Kohar usai grand opening usaha barunya.

Remebes.com, Bandar Lampung – Sabtu siang itu, dipenghujung bulan ditanggal 30 Mei 2026 mencatat sejarah bagi Harry Kohar yang kerap disapa Ahi Kohar.

Di sudut Jalan Diponegoro, Bandarlampung, aroma pindang ikan bercampur dengan denting gitar yang pelan-pelan mengalun.

Bacaan Lainnya

Tidak ada yang benar-benar berubah dari sosok Ahi Kohar hanya panggungnya saja yang kini berbeda.

Jika dulu ia berdiri di bawah sorot lampu dengan distorsi gitar dan riuh tepuk tangan, kini ia menyambut orang-orang dari balik dapur hangat sebuah warung bernama Pindang & Tomyam Salmon Satria.

Peresmian tempat itu bukan sekadar pembukaan usaha.

Ia lebih mirip pertemuan lama yang dipertemukan kembali oleh waktu.

Musisi senior, sahabat lama, pejabat, hingga warga biasa datang bukan hanya untuk makan, tapi untuk menyapa seorang kawan yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan mereka.

Ahi Kohar masih orang yang sama hangat, terbuka, dan mudah tertawa.

Di antara obrolan yang mengalir, ia bercerita sederhana.

Tentang kenapa ia memilih ikan. Tentang kenapa ia ingin semua orang bisa makan enak tanpa harus berpikir mahal.

Tentang bagaimana ia ingin tempat ini menjadi ruang bersama, bukan sekadar warung.

“Kalau dulu saya menghibur lewat musik, sekarang saya ingin melayani lewat makanan,” ucapnya pelan, tanpa kesan ingin terdengar besar.

Di meja-meja kayu yang mulai terisi, seporsi pindang salmon datang dengan kuah hangat yang mengepul.

Di sudut lain, seseorang memetik gitar, memainkan lagu-lagu lama yang mungkin pernah mereka mainkan bersama puluhan tahun lalu.

Tak ada jarak antara panggung dan penonton di sini. Semua melebur.

Warung ini seperti potongan kecil dari perjalanan hidupnya tentang keberanian mencoba hal baru tanpa meninggalkan jati diri. Tentang bagaimana musik tidak pernah benar-benar hilang, hanya berganti medium.

Menu yang disajikan pun sederhana, tapi punya cerita pindang salmon, pepes gurame, tomyam, hingga baung.

Semua disiapkan bukan sekadar untuk kenyang, tapi untuk dinikmati bersama.

Bahkan paket makan yang ditawarkan terasa seperti undangan untuk duduk lebih lama, berbagi cerita, dan tertawa.

Live music yang mengalun bukan gimmick. Ia seperti napas yang masih tersisa dari masa lalu, yang kini hidup berdampingan dengan aroma dapur.

Di tengah suasana itu, sulit membedakan mana pelanggan, mana sahabat lama. Semua seperti keluarga yang kebetulan dipertemukan di satu meja.

Bagi Ahi Kohar, usia bukan alasan untuk berhenti.

Justru menjadi alasan untuk terus berjalan dengan cara yang mungkin lebih sederhana, tapi lebih bermakna.

Dari panggung rock ke dapur kecil di sudut kota, ia tidak sedang berubah arah. Ia hanya menemukan cara lain untuk tetap memberi kebahagiaan.

Dan mungkin, di situlah letak keindahannya bahwa hidup tidak selalu tentang tetap di tempat yang sama, tapi tentang bagaimana kita tetap menjadi diri sendiri di mana pun kita berdiri.

Selamat bergulat dengan citarasa Ahi Kohar, tidak ada yang tidak mungkin, kuncinya hanya satu, konsisten dan berusaha.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *