Permintaan Kurban Melonjak, Dari Kandang Lampung ke Meja Ibadah Nusantara

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Mawarti berswafoto bersama Sapi bantuan Presiden Prabowo yang diberi nama "Tole" di pelataran Masjid Raya Al-Bakrie Bandar Lampung.

Rembes.com, Bandar Lampung – Aroma tanah basah dan suara lenguhan sapi dari kandang-kandang di pelosok Lampung tahun ini terasa berbeda.

Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, denyut kehidupan para peternak berdetak lebih cepat.

Bacaan Lainnya

Permintaan hewan kurban melonjak tajam membawa harapan sekaligus cerita panjang tentang kerja keras, kepercayaan, dan peran strategis daerah ini bagi Indonesia.

Lampung kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu lumbung ternak nasional. Data lalu lintas ternak menunjukkan lonjakan signifikan pada hampir semua jenis hewan kurban.

Sapi menjadi primadona, dengan total pengiriman mencapai 60.429 ekor pada 2026 melonjak 40,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 43.116 ekor.

Di balik angka itu, ada ribuan peternak kecil yang sejak berbulan-bulan lalu merawat ternaknya dengan penuh ketelatenan.

Idul Adha bukan sekadar momentum keagamaan, tetapi juga musim panen harapan bagi mereka.

Tak hanya sapi, kerbau pun ikut mengalami kenaikan. Dari 242 ekor pada 2025, kini meningkat menjadi 337 ekor atau naik 39,25 persen.

Sementara itu, lonjakan paling mencolok terjadi pada domba. Permintaannya meroket hingga 121,76 persen dari 1.764 ekor menjadi 3.912 ekor tahun ini.

Namun, di tengah tren kenaikan itu, kambing justru menunjukkan cerita berbeda. Jumlahnya sedikit menurun dari 143.335 ekor pada 2025 menjadi 139.917 ekor di 2026.

Penurunan ini diduga menjadi tanda pergeseran selera masyarakat yang mulai beralih ke sapi, kerbau, dan domba sebagai pilihan kurban.

Distribusi ternak asal Lampung kini menjangkau berbagai penjuru negeri. Sapi-sapi dikirim ke DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

Sementara kambing dan domba turut menyuplai kebutuhan daerah seperti Kepulauan Riau, Bangka Belitung, hingga Kalimantan Tengah.

Di tengah geliat ini, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Mawarti, menegaskan bahwa kualitas ternak Lampung tidak hanya terlihat dari jumlah, tetapi juga dari ukuran dan bobot yang terus meningkat.

“Untuk bantuan Presiden, bobot sapi yang disalurkan ke kabupaten/kota rata-rata di atas 1 ton. Hanya di Lampung Utara dan Lampung Timur yang bobotnya di bawah 1 ton, masing-masing sekitar 930 kilogram dan 987 kilogram,” ujar Lili.

Ia menyebutkan, sapi kurban untuk tingkat provinsi bahkan memiliki bobot lebih dari 1,1 ton.

Sementara sapi yang sebelumnya diserahkan untuk Kota Bandar Lampung juga berada di kisaran bobot di atas 1 ton.

Menariknya, seluruh sapi bantuan Presiden tersebut berasal dari peternak lokal Lampung. Tidak ada satu pun yang didatangkan dari luar daerah.

“Semua sapi yang didistribusikan merupakan hasil peternak Lampung. Bahkan, Lampung juga menyuplai sapi ke luar daerah,” jelasnya.

Menurut Lili, kemampuan peternak Lampung dalam membudidayakan sapi berbobot besar bukan hal baru.

Bahkan, terdapat komunitas khusus yang fokus mengembangkan sapi kategori “jumbo” dengan bobot di atas 800 kilogram.

“Sapi jumbo ini membutuhkan perawatan khusus dan biasanya ditangani oleh peternak tertentu. Meski begitu, hampir di setiap kabupaten ada, dengan jumlah terbanyak di Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan wilayah Sanggau,” katanya.

Jenis sapi yang dikembangkan pun beragam, mulai dari limousin, simental, hingga belgian blue, termasuk persilangan sapi lokal seperti PO dan brahman.

Momentum Idul Adha tahun ini juga membawa kabar baik bagi para peternak. Harga sapi mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau tahun 2025 harga per kilogram berat hidup berkisar Rp58 ribu sampai Rp60 ribu. Tahun 2026 ini naik menjadi sekitar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram,” ungkap Lili.

Kenaikan harga ini menjadi berkah tersendiri. Di balik setiap transaksi, tersimpan harapan peternak untuk kehidupan yang lebih baik.

“Momen ini menjadi panen bagi peternak kita. Harapannya, ini bisa terus mendorong pengembangan peternakan sapi di Lampung,” tandasnya.

Setiap pengiriman bukan sekadar perpindahan hewan ternak, melainkan juga simbol kepercayaan.

Lampung tak hanya menjual hewan kurban, tetapi juga kualitas, kesehatan, dan keyakinan bahwa ibadah kurban dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Di tengah arus distribusi yang kian luas, Lampung berdiri sebagai simpul penting dalam rantai ibadah kurban nasional.

Dari kandang-kandang sederhana di desa, hewan-hewan itu akan tiba di kota-kota besar, menjadi bagian dari ritual berbagi, mempererat solidaritas, dan menghidupkan makna pengorbanan.

Dan di sanalah, kisah Lampung terus berlanjut di setiap tetes keringat peternak, di setiap langkah distribusi, hingga di setiap doa yang menyertai hewan kurban yang disembelih.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *