Dari Lahan Menganggur Jadi Harapan Baru:  KDKMP Mulai Tumbuh di Lampung

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan menyimak dengan tenang sambutan Presiden Prabowo peresmian serentak KDKMP. Foto: Biro Adpim.

Rembes.com, Bandar Lampung – Sabtu pagi itu, layar besar di sebuah bangunan sederhana di Way Halim menjadi saksi sebuah momentum yang tak hanya seremonial.

Dari tempat itulah, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, mengikuti peresmian serentak 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto, yang dipusatkan di Kabupaten Nganjuk.

Bacaan Lainnya

Namun bagi Lampung, peristiwa itu bukan sekadar seremoni nasional.

Ia adalah tanda bahwa ruang-ruang yang dulu diam lahan tak terpakai, aset yang terbengkalai perlahan mulai menemukan denyut barunya.

Di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Way Halim, Bandar Lampung, harapan itu kini mulai mengambil bentuk.

“Alhamdulillah, hari ini kita menyaksikan langsung peresmian Koperasi Desa Merah Putih. Salah satunya ada di Lampung, tepatnya di Way Halim, memanfaatkan aset milik pemerintah provinsi,” kata Marindo.

Di balik kalimat formal itu, tersimpan cerita yang lebih besar tentang upaya menghidupkan kembali aset-aset daerah agar tak sekadar menjadi bangunan kosong, tetapi berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi warga.

Bersama jajaran TNI, Pemerintah Provinsi Lampung melakukan inventarisasi aset memilah mana yang bisa diubah menjadi ruang produktif bagi masyarakat. Way Halim menjadi salah satu titik awal dari gerakan ini.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, disebut mendorong langkah tersebut. Aset yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal, kini diarahkan menjadi fondasi berdirinya koperasi rakyat.

“Jangan sampai ada aset yang menganggur. Semua harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” kira-kira itulah semangat yang ingin dibangun.

Hingga kini, sudah 345 unit KDKMP berdiri di Lampung angka yang menjadikan provinsi ini sebagai salah satu yang terbanyak di luar Pulau Jawa.

Namun angka hanyalah permukaan. Di dalamnya, ada harapan-harapan kecil yang mulai dirangkai akses kebutuhan pokok yang lebih dekat, layanan kesehatan yang lebih mudah, hingga peluang usaha bagi warga.

Koperasi-koperasi ini dirancang bukan sekadar tempat simpan pinjam, tetapi menjadi pusat layanan terpadu dari gerai sembako, apotek, distribusi LPG, layanan listrik, hingga usaha pangan seperti beras dan jagung.

Di sisi lain, Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, memastikan percepatan pembangunan terus dikejar.

Di Lampung dan Bengkulu, total 562 titik koperasi telah dibangun hingga pertengahan Mei ini.

“Kita targetkan akhir Mei atau awal Juni sudah 600 titik yang selesai 100 persen,” ujarnya.

Di Bandar Lampung sendiri, tantangan sempat muncul terutama soal lahan. Namun persoalan itu perlahan terurai lewat kolaborasi.

“Pemprov sangat membantu, terutama dalam penyediaan lahan. Ini yang mempercepat pembangunan,” kata Kristomei.

Kini, lima titik koperasi telah berdiri di Bandar Lampung, dan jumlahnya ditargetkan bertambah dalam waktu dekat.

Di balik angka-angka pembangunan itu, ada sesuatu yang lebih penting, harapan agar koperasi benar-benar menjadi milik rakyat bukan sekadar proyek, bukan sekadar papan nama.

Karena pada akhirnya, yang diuji bukan berapa banyak koperasi berdiri, tetapi seberapa besar ia mampu menghidupi.

Dan di Way Halim, dari sebuah aset yang dulu sunyi, harapan itu mulai berbicara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *