Harga Plastik Melonjak, Industri Tahu-Tempe Tertekan, Pemerintah Tawarkan Kemasan Alami

Kepala Disperindag Lampung, M. Zimmi Skil, mengatakan lonjakan tersebut berpotensi menekan biaya produksi pelaku usaha.

Rembes.com, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung mulai menghitung dampak kenaikan harga plastik terhadap industri kecil.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) turun ke lapangan setelah lonjakan harga kemasan itu disebut mengganggu produksi tempe dan tahu.

Bacaan Lainnya

Peninjauan dilakukan di pabrik tahu milik H. Tikno di kawasan Way Halim, Bandar Lampung pada Rabu, (8/4/2026).

Di lokasi itu, Disperindag menemukan kenaikan harga plastik berada pada kisaran 40 hingga 70 persen.

Kepala Disperindag Lampung, M. Zimmi Skil, mengatakan lonjakan tersebut berpotensi menekan biaya produksi pelaku usaha.

“Industri tempe dan tahu masih bergantung pada plastik sebagai kemasan,” ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga plastik dipicu naiknya harga nafta bahan turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku biji plastik.

Gejolak geopolitik global, termasuk distribusi minyak melalui Selat Hormuz, disebut ikut mendorong kenaikan tersebut.

Namun, pemerintah daerah menilai tekanan itu belum sepenuhnya menjalar ke harga produk.

Salah satu penahannya adalah harga kedelai impor yang masih stabil.

Zimmi menyebut harga kedelai berada di kisaran Rp10.000 per kilogram, lebih rendah dari harga acuan pemerintah sebesar Rp12.000.

“Artinya, pelaku industri masih punya ruang menjaga harga jual,” katanya.

Stok kedelai juga diklaim aman. Di antaranya tersimpan sekitar 500 ton di PT Budi Andalan Group.

Pemerintah memastikan distribusi bahan baku utama tidak terganggu.

Di tengah tekanan harga plastik, Disperindag menawarkan solusi lama kembali ke daun pisang. Selain lebih murah, kemasan tradisional itu dinilai lebih aman bagi kesehatan.

“Daun pisang lebih alami dan sudah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi,” ujar Zimmi.

Pemerintah pusat, kata dia, kini tengah mencari jalan keluar dari hulu.

Negosiasi pasokan minyak bumi disebut dilakukan dengan sejumlah negara di Afrika dan Amerika guna menjaga ketersediaan bahan baku nafta.

Sejauh ini, beban industri belum sepenuhnya dipindahkan ke konsumen.

Namun, jika harga plastik terus merangkak naik, pilihan antara kemasan modern dan tradisional bisa kembali menjadi soal biaya, bukan sekadar selera.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *