Mirza-Jihan Menaruh Harapan pada Sarjana dan Hafiz dari Desa

Rembes.com, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung di bawah Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela menggeser fokus pembangunan dari sekadar membangun infrastruktur fisik ke penguatan sumber daya manusia.

Salah satu caranya melalui program Satu Desa Satu Sarjana dan Satu Desa Satu Hafiz Qur’an.

Bacaan Lainnya

Program Satu Desa Satu Sarjana dirancang untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi anak-anak desa.

Pemprov Lampung menyebut program itu akan mulai dijalankan tahun depan. Gubernur Mirza sebelumnya mengatakan anak-anak desa akan dibiayai untuk kuliah hingga selesai.

Dalam skema yang disiapkan pemerintah, sekitar 2.500 putra-putri desa ditargetkan memperoleh beasiswa untuk menempuh pendidikan tinggi, terutama pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Mirza mengatakan program tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan angka partisipasi pendidikan tinggi.

Pemerintah ingin lulusan dari desa memiliki kompetensi yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan di daerah asalnya.

“Lampung membutuhkan generasi muda yang memiliki kemampuan di bidang teknologi, mesin, industri, pertanian modern, serta berbagai keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan,” kata Mirza pada Rabu, (26/8/2026).

Menurut dia, pendidikan vokasi dan pendidikan berbasis keterampilan juga penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan Lampung.

Pemerintah provinsi, kata Mirza, memiliki kewenangan dalam membuat kebijakan dan membuka ruang pembangunan.

Perguruan tinggi berperan menghadirkan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan sumber daya manusia.

Gagasan tersebut sebelumnya juga disampaikan Mirza dalam sejumlah kesempatan. Ia menyebut kualitas SDM sebagai salah satu persoalan utama Lampung.

Dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat di Jabung pada Juli lalu, misalnya, Mirza mengatakan program Satu Desa Satu Sarjana diarahkan agar anak-anak desa dapat kembali membangun daerah asalnya.

Tantangan Bukan Sekadar Beasiswa

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, Albet Maydiantoro, menilai program Satu Desa Satu Sarjana dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas SDM.

“Pak Gubernur memiliki program satu desa satu sarjana, merupakan sebuah terobosan dan inovasi yang perlu kita dukung oleh semua pihak,” kata Albet.

Menurut dia, perguruan tinggi dapat ikut menyiapkan lulusan SMA dari desa agar memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana.

Albet mengatakan pendidikan memiliki kontribusi penting terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia atau IPM.

“Jangka panjangnya adalah IPM kita akan bisa tumbuh merangkak naik persentasenya. Walaupun memang tidak semuanya dari unsur pendidikan, namun unsur pendidikan memegang peranan yang sangat penting,” ujarnya.

Program itu sekaligus melanjutkan kebijakan Pemprov Lampung di bidang pendidikan.

Pemerintah sebelumnya menghapus uang komite sekolah dan mengembangkan sejumlah skema pendidikan untuk memperluas akses belajar.

Namun, beasiswa bukan satu-satunya persoalan.

Program tersebut akan diuji oleh kemampuan pemerintah memastikan penerima berasal dari kelompok yang memang membutuhkan, menyelesaikan pendidikan hingga lulus, serta memperoleh bidang studi yang relevan dengan kebutuhan daerah.

Persoalan lain muncul setelah mereka menyandang gelar sarjana apakah mereka memiliki kesempatan bekerja atau kembali ke desa dengan kompetensi yang dapat digunakan untuk mengembangkan daerah?

Pertanyaan itu menjadi penting karena tujuan program bukan sekadar menambah jumlah sarjana, melainkan menciptakan sumber daya manusia yang mampu memberi dampak di desa.

Menyeimbangkan Iptek dan Pendidikan Agama

Pemprov Lampung juga menyiapkan Program Satu Desa Satu Hafiz Qur’an melalui kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Lampung.

Program ini diarahkan untuk memberikan dukungan pendidikan bagi generasi muda desa yang ingin menghafal Al-Qur’an.

Bagi Mirza, penguatan kemampuan intelektual perlu berjalan bersama pendidikan karakter dan keagamaan.

“Di tangan para penghafal Al-Qur’an dan para sarjana STEM inilah masa depan Lampung dan Indonesia dipertaruhkan. Kita membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara nalar, tetapi juga tangguh hatinya,” ujar Mirza.

Dua program tersebut menempatkan desa sebagai basis pengembangan sumber daya manusia.

Sarjana STEM diharapkan membawa pengetahuan dan teknologi, sedangkan program hafiz Qur’an diarahkan pada penguatan pendidikan keagamaan.

Konsep itu sejalan dengan agenda Mirza yang menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu prioritas pemerintahannya.

Dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, ia menegaskan bahwa investasi pembangunan tidak cukup hanya melalui infrastruktur, tetapi juga harus diarahkan pada manusia.

Menguji Slogan “Manusia adalah Infrastruktur”

Gagasan “manusia adalah infrastruktur terpenting” pada akhirnya tidak cukup berhenti sebagai slogan.

Keberhasilan Satu Desa Satu Sarjana akan terlihat dari seberapa banyak anak desa yang benar-benar dapat menembus perguruan tinggi, menyelesaikan pendidikan, memperoleh pekerjaan, atau kembali membawa keahlian ke daerah asalnya.

Begitu pula Satu Desa Satu Hafiz Qur’an. Program tersebut membutuhkan pembinaan yang berkelanjutan agar tidak berhenti pada pemberian beasiswa dan pencapaian jumlah hafiz.

Pemerintah Lampung kini menempatkan dua program itu sebagai bagian dari investasi jangka panjang pembangunan manusia.

Jika berjalan sesuai tujuan, ukuran keberhasilannya bukan hanya bertambahnya jumlah penerima beasiswa atau lulusan.

Ukuran akhirnya adalah apakah anak-anak desa itu kelak mampu mengubah desa tempat mereka berasal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *