Di Sekolah Tak Ada Google Maps, Thomas Amirico Tantang Calon Guru Ubah Pendidikan Lampung

Rembes.com, Bandar Lampung – Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung mendadak hening di tengah riuh acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) pada Kamis, (13/8/2026).

Ribuan mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila yang semula mengikuti acara penyambutan mendengarkan satu kalimat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Thomas Amirico.

Bacaan Lainnya

“Di sekolah itu tidak ada Google Maps.”

Kalimat itu bukan sekadar analogi. Thomas sedang mengingatkan calon guru bahwa ruang kelas tidak memiliki petunjuk otomatis untuk menyelesaikan persoalan setiap siswa.

“Saya mengajak kalian sebagai calon pendidik untuk berpikir dari sekarang. Bagaimana nanti meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Lampung? Ingat, di sekolah itu tidak ada Google Maps,” ujar Thomas.

Menurut Thomas, Google Maps dapat menunjukkan arah ketika seseorang tersesat.

Di sekolah, guru tidak memiliki peta digital yang bisa langsung menunjukkan jalan keluar ketika seorang siswa kesulitan memahami pelajaran, kehilangan motivasi, atau tertinggal dari teman-temannya.

Karena itu, guru dituntut membaca kondisi setiap anak, mencari cara mengajar yang sesuai, lalu mengukur apakah cara tersebut berhasil.

Thomas mengatakan proses itu semestinya dimulai sejak siswa duduk di kelas 10, dilanjutkan dengan penguatan di kelas 11, hingga akselerasi pada kelas 12.

Pemetaan kemampuan siswa, menurut dia, penting agar intervensi pembelajaran tidak dilakukan secara serampangan.

Matematika dan IPA Masih Jadi Lampu Merah

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung kini menyiapkan peta jalan transformasi pendidikan di sekolah.

Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah pemantauan perkembangan akademik siswa secara berkala.

Thomas menyebut hasil kajian internal menunjukkan masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.

Matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA), kata dia, menjadi titik lemah yang perlu mendapat perhatian.

“Hasil kajian kami, Lampung itu masih lemah di matematika dan IPA. Jadi, kalau ada sekolah mengklaim dirinya sekolah unggulan, dua mata pelajaran itu wajib hukumnya kuat,” katanya.

Pesan itu terutama ditujukan kepada mahasiswa FKIP yang kelak berdiri di depan kelas.

Thomas meminta mahasiswa jurusan matematika dan sains tidak menjadikan masa kuliah sekadar proses memperoleh gelar.

Mereka harus menyiapkan diri menjadi guru yang mampu membuat pelajaran yang selama ini dianggap sulit menjadi sesuatu yang bisa dipahami dan, kalau mungkin, disukai siswa.

Ketika Guru Mengubah Peta Hasil Belajar

Thomas kemudian membawa dua contoh sekolah di Lampung untuk menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan sesuatu yang tidak bisa diubah.

Salah satunya SMAN 14 Bandar Lampung. Pada kelulusan 2026, sebanyak 284 siswa dari delapan rombongan belajar sekolah tersebut disebut berhasil masuk perguruan tinggi negeri atau PTN.

Tingkat kelulusan itu mencapai 100 persen, meningkat dari 89 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut Thomas, angka tersebut tidak muncul begitu saja. “Di SMAN 14 itu tim percepatan pembelajarannya ada, komite pembelajarannya hidup, dan manajemen sekolahnya aktif. Yang menarik, di sana ada sembilan guru matematika yang sangat produktif,” ujarnya.

Contoh lain datang dari SMAN 1 Tegineneng, Lampung Selatan. Sekolah itu mencatat 99,42 persen lulusan masuk PTN.

Thomas menyebut keberhasilan tersebut antara lain ditopang seorang guru matematika yang menjadi pionir sekaligus guru penggerak.

Guru tersebut mengorkestrasi kolaborasi antar-guru mata pelajaran sehingga proses pembelajaran tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dua sekolah itu, kata Thomas, juga menggunakan teknologi Information Technology Reset (ITR) dan Quick Check.

Sistem tersebut digunakan untuk memantau kemampuan siswa secara berkala, termasuk mengukur nilai dan target pencapaian masing-masing siswa.

Dengan pemetaan itu, guru dapat menentukan siswa mana yang membutuhkan penguatan dan bentuk intervensi yang diperlukan.

Masa Depan Pendidikan Ada di Tangan Calon Guru

Thomas mengatakan teknologi tidak lagi bisa dipisahkan dari pendidikan. Namun teknologi, menurut dia, bukan pengganti guru.

Teknologi justru harus menjadi alat bagi guru untuk mengenali persoalan siswa dengan lebih cepat dan mengambil keputusan pembelajaran berdasarkan data.

Ia berharap Universitas Lampung terus memperkuat ekosistem pembelajaran digital.

Mahasiswa yang kelak menjadi guru harus dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi dan sumber pengetahuan yang tidak terbatas pada ruang kelas.

Di hadapan ribuan mahasiswa baru FKIP Unila itu, Thomas seperti sedang menggeser cara pandang tentang profesi guru.

Guru bukan sekadar orang yang datang ke kelas, membuka buku, menerangkan pelajaran, lalu memberikan nilai.

Guru harus menjadi orang yang tahu ke mana siswanya hendak dibawa meski di sekolah, seperti kata Thomas, tidak ada Google Maps.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *