Prof Hamzah Tawarkan Transformasi Unila Menjadi Universitas Riset Berstandar Internasional

Guru Besar Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr. Hamzah, S.H., M.H., PIA.

Rembes.com, Bandar Lampung – Guru Besar Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr. Hamzah, S.H., M.H., PIA., menyampaikan dokumen visi, misi, dan program kerja sebagai bakal calon Rektor Unila periode 2027-2031.

Dalam dokumen yang disusun pada 2026 itu, Hamzah menawarkan transformasi Unila menjadi universitas riset yang unggul, berstandar internasional, inklusif, dan memiliki dampak lebih luas bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Gagasan tersebut ia tempatkan dalam konteks perubahan pendidikan tinggi dan target pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut Hamzah, Unila tidak cukup hanya mempertahankan capaian yang telah diraih.

Kampus juga perlu beradaptasi dengan perubahan teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta tuntutan peningkatan daya saing perguruan tinggi.

Hamzah menilai perubahan itu membutuhkan model kepemimpinan yang progresif, terutama dalam membenahi tata kelola dan birokrasi akademik.

“Kepemimpinan universitas ke depan harus berani mendobrak kelembaman birokrasi akademik, berorientasi pada dampak nyata, serta menempatkan mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi dan daya saing lulusan sebagai ukuran keberhasilan yang paling hakiki,” kata Hamzah pada Kamis, (3/9/2026).

Dua fokus transformasi

Arah kebijakan yang ditawarkan Hamzah mengacu pada visi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Ia menempatkan penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan peningkatan daya saing lulusan sebagai dua fokus utama transformasi Unila.

Penguatan Tri Dharma, menurut dia, tidak dapat berjalan secara terpisah antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketiganya perlu diintegrasikan agar aktivitas akademik tidak berhenti pada pencapaian administratif, tetapi menghasilkan inovasi dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Sementara dari sisi lulusan, Hamzah ingin Unila memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan dunia usaha, dunia industri, serta dunia kerja (DUDIKA).

Kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja menjadi salah satu ukuran yang ia tawarkan.

Untuk menjalankan agenda tersebut, Hamzah merumuskan tujuh prioritas misi yang kemudian dipetakan ke dalam lima pilar strategis pengembangan Unila.

Lima pilar pengembangan

Pertama, pendidikan dan pengajaran.

Hamzah menawarkan pembaruan kurikulum agar lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri.

Ia juga mendorong penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi dalam proses pembelajaran.

Selain itu, ia memasukkan penguatan studi lanjut serta sertifikasi internasional bagi dosen sebagai bagian dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia akademik.

Kedua, penelitian dan inovasi.

Hamzah mengusulkan pembentukan pusat-pusat unggulan riset berbasis tema yang dinilai strategis bagi Unila dan Lampung.

Bidang yang disebut antara lain pertanian tropis, kemaritiman, energi terbarukan, hukum dan tata kelola, serta kesehatan masyarakat.

Penelitian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan publikasi ilmiah.

Hamzah juga menekankan percepatan hilirisasi agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi produk, teknologi, maupun rekomendasi kebijakan.

Ketiga, pengabdian kepada masyarakat.

Pada sektor ini, Hamzah menawarkan penguatan desa binaan berbasis teknologi tepat guna dan pelaksanaan KKN tematik yang diarahkan pada persoalan strategis.

Program tersebut dilengkapi dengan pendampingan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta keterlibatan perguruan tinggi dalam penyusunan kebijakan publik bersama pemerintah daerah.

Keempat, tata kelola dan kelembagaan.

Hamzah memasukkan penerapan Good University Governance sebagai salah satu agenda utama. Digitalisasi layanan akademik dan administrasi menjadi bagian dari upaya tersebut.

Ia juga menawarkan reformasi birokrasi kampus agar lebih responsif serta memperkuat sistem penjaminan mutu internal.

Bagi Hamzah, tata kelola yang efektif diperlukan agar agenda akademik dan riset tidak terhambat oleh proses birokrasi.

Kelima, daya saing lulusan dan kemitraan.

Hamzah menyoroti masa tunggu lulusan untuk memperoleh pekerjaan. Ia menawarkan penguatan pusat karier, sertifikasi kompetensi yang diakui industri, serta pengembangan inkubator bisnis dan kewirausahaan.

Ia juga mendorong perluasan program magang bersertifikat melalui kemitraan dengan perusahaan nasional maupun multinasional.

Reputasi global, kontribusi lokal

Agenda transformasi yang ditawarkan Hamzah pada akhirnya diarahkan pada dua kepentingan,

memperkuat posisi Unila dalam persaingan pendidikan tinggi global dan mempertahankan peran kampus dalam menjawab persoalan pembangunan di Lampung.

Menurut Hamzah, orientasi internasional tidak seharusnya membuat Unila kehilangan akar kontribusinya terhadap masyarakat sekitar.

Karena itu, penguatan reputasi akademik, riset, inovasi, dan kemitraan internasional perlu berjalan beriringan dengan agenda pengabdian dan pembangunan daerah.

Hamzah mengajak sivitas akademika Unila membangun kolaborasi untuk mewujudkan arah tersebut. Gagasan itu menjadi bagian dari tawarannya dalam kontestasi pemilihan Rektor Unila periode 2027-2031.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *