Mukti Shoheh Dukung Ketegasan Kapolda Lampung, Demi Rasa Aman yang Nyaris Hilang

Ketua DPD Partai Hanura Lampung, Mukti Shoheh. Dok: Rembes.com.

Pagi itu, suara kabar duka dan amarah seakan bercampur di udara Lampung. Jalanan yang mestinya menjadi ruang pulang, justru berubah menjadi ruang ancaman.

Di tengah kegelisahan itu, satu suara datang tenang, tapi sarat kegundahan.

Bacaan Lainnya

Ketua DPD Partai Hanura Lampung, Mukti Shoheh, memilih tidak sekadar bicara soal hukum.

Ia bicara tentang rasa takut yang pelan-pelan menggerogoti masyarakat.

“Kalau kita keluar rumah tapi tidak yakin bisa pulang dengan selamat, itu bukan sekadar kriminalitas. Itu sudah menyentuh rasa kemanusiaan,” ujarnya pada Selasa, (19/5/2026) dengan lantang dan mengedapankan narasi yang komprehensif.

Bagi Mukti, apa yang terjadi belakangan ini bukan lagi deretan angka kejahatan.

Ini adalah cerita tentang keluarga yang menunggu di rumah, tentang orang-orang yang berangkat pagi dengan harapan kembali utuh namun tak semuanya benar-benar sampai.

Ia pun mendukung penuh langkah tegas Kapolda Lampung, Irjen Helfi Assegaf, dalam memberantas aksi begal yang kian brutal.

“Negara tidak boleh kalah. Ketegasan aparat hari ini adalah cara kita menjaga harapan masyarakat tetap hidup,” katanya.

Namun di balik dukungan itu, Mukti menyimpan kegelisahan yang lebih dalam.

Ia melihat, maraknya begal bukan hanya soal kejahatan jalanan, melainkan tanda ada sesuatu yang retak di dalam masyarakat.

“Kita ini sedang menghadapi situasi yang tidak sederhana. Ada faktor ekonomi, ada narkoba, ada juga hilangnya rasa takut terhadap hukum,” ucapnya pelan.

Ia khawatir, jika dibiarkan, Lampung bukan hanya kehilangan rasa aman tetapi juga kehilangan kepercayaan.

“Orang luar akan melihat Lampung bukan lagi sebagai tempat singgah yang ramah, tapi sebagai wilayah yang dihindari. Itu yang harus kita jaga bersama,” lanjutnya.

Di sisi lain, pernyataan tegas Kapolda Lampung menjadi penanda bahwa aparat tak ingin lagi memberi ruang bagi pelaku kejahatan jalanan.

Instruksi “tembak di tempat” bagi pelaku yang melawan, bukan sekadar ancaman, melainkan pesan bahwa negara hadir.

“Ini bukan sekadar penindakan. Ini peringatan,” kata Helfi dalam keterangannya.

Menurutnya, banyak kasus begal yang terjadi hari ini bukan lagi didorong kebutuhan dasar, melainkan penyalahgunaan narkoba.

“Ini bukan urusan perut. Banyak yang melakukan untuk narkoba. Karena itu, kita tingkatkan cara bertindak demi menjaga keamanan masyarakat,” ujarnya.

Di tengah semua itu, harapan sederhana sebenarnya masih sama jalanan yang aman, rumah yang menunggu dengan tenang, dan rasa pulang yang tidak lagi dibayangi ketakutan.

Dan mungkin, seperti yang tersirat dari suara Mukti pagi itu ketegasan hukum bukan hanya soal menghentikan kejahatan, tapi tentang mengembalikan rasa percaya bahwa hidup di Lampung masih layak dijalani dengan hati yang tenang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *