Di Balik Meja Rapat, Lampung Menjahit Mimpi Besar Porwanas 2027

Rembes.com, Bandar Lampung  – Pagi itu, langkah-langkah kecil para pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena lelah, melainkan karena mereka sedang memikul sebuah harapan mengulang sejarah, sekaligus menulis babak baru bagi Lampung di panggung nasional.

Bacaan Lainnya

Di ruang sekretariat KONI Lampung, percakapan demi percakapan mengalir. Bukan sekadar soal pertandingan, melainkan tentang mimpi besar bernama Porwanas 2027.

Ketua KONI Lampung, Taufik Hidayat, menangkap semangat itu. Ia tak hanya berbicara soal target, tetapi juga tentang keyakinan.

“Kita targetkan Lampung masuk lima besar. Ini bukan sekadar angka, tapi semangat bersama,” ujarnya pada Senin (18/5/2026) diruangan yang sangat dingin dan megah.

Di balik target itu, ada kerja sunyi yang mulai disusun mendata atlet dari 14 cabang olahraga, memetakan potensi, hingga menyiapkan tempat-tempat yang kelak akan menjadi saksi perjuangan para wartawan atlet.

Lampung, kata Taufik, bukan tanpa modal. Ada sejarah, ada prestasi, dan ada keyakinan bahwa daerah ini mampu berdiri sejajar dengan provinsi lain.

Di sudut lain, gagasan demi gagasan mengemuka. Riagus Ria mengusulkan gajah sebagai maskot simbol kekuatan dan identitas Lampung.

Sementara Krisna Putra membayangkan venue yang terpusat, seperti denyut yang terkumpul di satu jantung kegiatan.

Namun, lebih dari sekadar teknis, ada cerita lama yang kembali dihidupkan.

Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah, mengingat tahun 1993 saat Lampung terakhir kali menjadi tuan rumah Porwanas.

“Saat itu dibuka langsung Presiden Soeharto,” kenangnya. Ada jeda sejenak, seolah memutar ulang memori. “Sekarang, kami ingin mengulang kesuksesan itu.”

Keinginan itu bukan tanpa alasan. Bagi PWI, Porwanas bukan hanya tentang medali. Ini tentang kebanggaan, tentang menunjukkan bahwa wartawan tak hanya piawai menulis, tetapi juga mampu bertanding.

Di balik itu semua, ada wajah-wajah yang mungkin tak terlihat para atlet yang mulai berlatih, para panitia yang menyusun rencana, hingga mereka yang percaya bahwa Lampung layak menjadi tuan rumah yang membanggakan.

Wakil Ketua PWI Lampung, Segan Petrus Simanjuntak, menyebut langkah mereka hari itu sebagai proses belajar.

“Kami ingin menyusun semuanya dengan baik dari juri, wasit, venue, hingga anggaran,” katanya.

Sebab mereka sadar, keberhasilan bukan hanya ditentukan di arena pertandingan, tetapi juga di balik meja perencanaan.

Porwanas 2027 masih dua tahun lagi. Namun bagi Lampung, perjalanan itu sudah dimulai hari ini dari ruang-ruang diskusi, dari mimpi-mimpi yang dirawat, dan dari tekad untuk membuktikan bahwa daerah ini tak hanya siap menjadi tuan rumah, tetapi juga siap menjadi juara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *