Lampung Terlalu Cepat Merayakan Angka

Rembes.com, Bandar Lampung – Angka boleh turun. Grafik boleh menghijau. Konferensi pers boleh dipenuhi kabar baik.

Namun sosiologi mengingatkan satu hal sederhana budaya tidak pernah lahir dari pidato, slogan, atau instruksi pemerintah.

Bacaan Lainnya

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis sederet indikator yang menggembirakan.

Tingkat kemiskinan turun menjadi 9,31 persen pada Maret 2026. Jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 28 ribu orang.

Ekonomi tumbuh 5,58 persen, inflasi terkendali di angka 1,16 persen, dan penyerapan tenaga kerja meningkat.

Semua terdengar seperti kabar yang pantas dirayakan.

Tetapi, di balik tepuk tangan statistik itu, terdapat catatan yang justru mengajak publik berpikir lebih dalam.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) justru meningkat.

Artinya, mereka yang masih miskin rata-rata semakin jauh dari garis kemiskinan, sementara jurang di antara kelompok miskin juga semakin melebar.

Di dunia sosiologi, perubahan sosial tidak pernah selesai hanya karena angka bergerak ke arah yang diinginkan.

Perubahan menjadi budaya hanya lahir melalui proses panjang pembiasaan, menjadi terbiasa, berkembang menjadi tradisi, dan akhirnya mengakar sebagai budaya.

Dengan kata lain, kesejahteraan tidak dapat diproduksi seperti menerbitkan surat edaran.

Jika pemerintah ingin kemiskinan benar-benar menjadi cerita masa lalu, maka yang dibangun bukan hanya program tahunan atau target administratif.

Yang harus dibangun adalah kebiasaan masyarakat untuk hidup produktif, akses pendidikan yang terus membaik, lapangan kerja yang berkualitas, birokrasi yang melayani, dan ekonomi yang memberi ruang bagi warga untuk naik kelas.

Sebab budaya sejahtera bukan hasil rapat koordinasi.

Ia lahir ketika masyarakat setiap hari dibiasakan memperoleh pekerjaan layak, memperoleh pelayanan publik yang adil, menikmati pendidikan yang bermutu, dan memiliki kesempatan ekonomi yang terus tumbuh.

Ketika kebiasaan itu berlangsung lama, ia berubah menjadi tradisi. Dari tradisi itulah lahir budaya.

Data BPS sendiri menunjukkan pekerjaan rumah itu masih panjang.

Proporsi pekerja informal justru meningkat menjadi 69,17 persen. Pekerja penuh menurun, sementara pekerja paruh waktu dan setengah menganggur bertambah.

Ini menjadi sinyal bahwa lebih banyak orang memang bekerja, tetapi belum tentu memperoleh pekerjaan yang mampu mengangkat kualitas hidup mereka.

Di perkotaan, ironi itu bahkan terlihat lebih jelas. Walaupun tingkat kemiskinan relatif lebih rendah dibanding perdesaan, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan justru memburuk.

Angka kemiskinan boleh mengecil, tetapi beban hidup mereka yang tersisa semakin berat.

Inilah sebabnya statistik tidak boleh diperlakukan sebagai panggung untuk berpuas diri. Angka adalah alat ukur, bukan tujuan akhir.

Pemerintah tentu patut diapresiasi ketika indikator makro menunjukkan perbaikan.

Namun, keberhasilan sejati baru lahir ketika masyarakat tidak lagi bergantung pada program yang datang silih berganti setiap pergantian pemerintahan, melainkan telah memiliki budaya mandiri yang tumbuh dari kebiasaan baik yang dipelihara secara konsisten.

Sebab dalam ilmu sosiologi, budaya bukan sesuatu yang bisa diperintahkan.

Budaya lahir dari pembiasaan. Pembiasaan melahirkan kebiasaan. Kebiasaan menjadi tradisi. Dan tradisi yang bertahan lama itulah yang akhirnya disebut sebagai budaya.

Barangkali di situlah pekerjaan terbesar pemerintah bukan sekadar membuat masyarakat mendengar instruksi, tetapi membangun kebiasaan yang suatu hari akan diwariskan sebagai budaya kesejahteraan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *