Punggung Ayah Membungkuk, Putri Kembarnya Lolos Fakultas Kedokteran UI

Rembes.com, Bandar Lampung – Pagi-pagi sekali, Satria telah memanggul pasir di pesisir Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Debu dan keringat menjadi bagian dari hari-harinya.

Upah yang dibawa pulang tak pernah besar, tetapi selalu cukup untuk menjaga satu mimpi tetap hidup menyekolahkan kedua putri kembarnya setinggi mungkin.

Bacaan Lainnya

Bertahun-tahun pekerjaan sebagai tukang angkut pasir dijalaninya tanpa banyak keluh.

Di balik beban karung yang dipikul setiap hari, tersimpan harapan agar Shafira dan Shabila suatu saat memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya.

Harapan itu kini menjelma menjadi kenyataan.

Shafira, alumnus SMA Negeri 1 Pesisir Tengah Krui, diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Saudara kembar identiknya, Shabila, alumnus SMA Kebangsaan yang pernah menjabat Ketua OSIS, juga lolos ke Universitas Indonesia melalui Fakultas Hukum.

Bagi banyak orang, kabar itu mungkin hanya deretan nama yang berhasil menembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Namun, bagi keluarga kecil Satria, itu adalah buah dari ribuan hari yang diisi kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus.

Perjuangan itu belum berhenti ketika surat kelulusan diterima.

Demi memastikan kedua putrinya dapat menempuh pendidikan tanpa hambatan, Satria mengambil keputusan yang tidak ringan.

Ia meninggalkan kampung halaman dan membawa keluarganya merantau ke Bekasi, Jawa Barat.

Di kota yang asing, ia memulai hidup dari nol. Pekerjaan sebagai pengangkut pasir ditinggalkan.

Kini ia mencari nafkah dengan berjualan pakaian, berharap penghasilan yang diperoleh cukup untuk menopang biaya hidup sekaligus pendidikan kedua anaknya.

Perpindahan itu bukan semata soal mencari penghasilan. Ada keyakinan yang ingin dijaga: mimpi anak-anaknya tidak boleh berhenti hanya karena keadaan ekonomi.

Kisah keluarga ini menjadi potret tentang arti pengorbanan orang tua. Di tengah keterbatasan, pendidikan tetap ditempatkan sebagai jalan untuk mengubah masa depan.

Keberhasilan Shafira dan Shabila juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Pesisir Barat.

Dari daerah di ujung barat Lampung, keduanya membuktikan bahwa anak-anak daerah mampu bersaing di tingkat nasional ketika kerja keras bertemu dengan kesempatan dan dukungan keluarga.

Di balik toga yang kelak dikenakan, ada tangan seorang ayah yang bertahun-tahun memanggul pasir agar kedua putrinya dapat memanggul cita-cita.

Barangkali, itulah gelar pertama yang sesungguhnya telah diraih Satria bukan sebagai sarjana, melainkan sebagai ayah yang tak pernah menyerah demi masa depan anak-anaknya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *