Kadis KPTPH Lampung: Memulihkan Tanah adalah Jalan Menjaga Masa Depan Petani

Rembes.com, Bandar Lampung – Di tengah biaya produksi pertanian yang terus meningkat, Pemerintah Provinsi Lampung mulai mendorong petani beralih secara bertahap dari ketergantungan pada pupuk kimia.

Melalui program Pupuk Hayati Cair (PHC), pemerintah berharap hasil panen meningkat tanpa mengabaikan kesehatan tanah.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan pemerintah menargetkan penerapan PHC di 1.300 desa sepanjang 2026.

Hingga awal Juli, program tersebut telah berjalan di sekitar 500 desa, sementara 800 desa lainnya akan direalisasikan secara bertahap.

“Kami berharap seluruh penyuluh pertanian dapat mendampingi petani, mulai dari proses aplikasi pupuk hayati cair hingga mengawal peningkatan produksi di lapangan,” kata Elvira di sela Bimbingan Teknis Penyuluh Pertanian Pendamping Program Pupuk Hayati Cair di Bandar Lampung, Selasa, 7 Juli 2026.

Menurut Elvira, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada distribusi teknologi, tetapi juga pada pendampingan yang dilakukan penyuluh pertanian kepada petani.

Karena itu, keterlibatan penyuluh menjadi bagian penting agar penerapan pupuk hayati cair dapat berjalan optimal.

Program tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian, Eko Nugroho, menilai PHC merupakan langkah yang patut dikawal karena berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman pangan sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menerima kenang-kenangan dari Kementrian Pertanian. 

“Penyuluh harus mengawal program ini. Gerakan ini sangat baik untuk mendukung peningkatan produksi padi, jagung, maupun singkong,” ujar Eko.

Ia mengatakan pemerintah pusat terus memperkuat program intensifikasi pertanian melalui bantuan benih unggul, pompanisasi, pembangunan irigasi, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta sarana prapanen dan pascapanen.

Menurut Eko, usulan bantuan kini dapat diajukan langsung oleh penyuluh pertanian melalui mekanisme calon penerima dan calon lokasi (CPCL), selain melalui dinas pertanian.

“Anggaran sudah disiapkan. Bantuan alsintan, irigasi, pompanisasi hingga sarana prapanen dan pascapanen akan segera disalurkan ke Lampung,” katanya.

Kementerian Pertanian juga tengah memperkenalkan metode tanam PMAS yang ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas padi hingga sekitar 10 ton per hektare, bahkan berpotensi mencapai 12 ton per hektare. Saat ini rata-rata produksi padi nasional berkisar 5,6 ton per hektare.

Sementara itu, perwakilan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP) Lampung, Hendro Gunawan, mengatakan pupuk hayati cair berperan memperbaiki kualitas tanah yang selama ini mengalami penurunan kandungan karbon organik akibat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang.

Menurut Hendro, PHC dibuat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh petani, seperti limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras yang dicampur bakteri lalu difermentasi sekitar tiga pekan.

Pupuk tersebut cukup diaplikasikan sekali sebelum masa tanam dan dapat digunakan pada berbagai komoditas, mulai dari padi, jagung, kedelai, singkong, kopi hingga kelapa sawit.

Bagi Pemerintah Provinsi Lampung, target 1.300 desa bukan sekadar angka.

Program ini diharapkan menjadi awal perubahan cara bertani yang lebih ramah terhadap tanah, sekaligus membantu petani menekan biaya produksi dan menjaga hasil panen dalam jangka panjang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *