Gunung Anak Krakatau Erupsi, BPBD Tegaskan Belum Ada Evakuasi dan Minta Publik Tak Percaya Video AI

Rembes.com, Bandar Lampung – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

BPBD menegaskan, status gunung api tersebut saat ini berada pada Level III (Siaga), bukan “Siaga 3” sebagaimana kerap disalahartikan, dan hingga kini belum memerlukan evakuasi warga.

Bacaan Lainnya

Humas Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa penetapan status aktivitas gunung api memiliki tingkatan yang sudah baku, yakni Level I (Normal), Level II (Waspada), Level III (Siaga), dan Level IV (Awas).

“Hari ini Gunung Anak Krakatau statusnya Level III atau Siaga. Jadi perlu diluruskan, bukan siaga tiga, tetapi status siaga yang berada pada level tiga. Setelah itu baru Level IV atau Awas,” kata Wahyu usai rapat bersama sekretaris daerah Lampung Marindo Kurniawan pada Senin, (6/7/2026).

Menurutnya, status Siaga pada Gunung Anak Krakatau tidak otomatis diikuti kebijakan evakuasi sebagaimana gunung api yang berada di daratan.

“Karena Gunung Anak Krakatau berada di tengah laut, maka pada Level III tidak dilakukan evakuasi. Berbeda dengan gunung api di daratan yang pada level yang sama bisa dilakukan evakuasi terhadap masyarakat,” ujarnya.

Hoaks Video AI

BPBD juga menyoroti maraknya penyebaran video yang menampilkan letusan Gunung Anak Krakatau secara dramatis.

Wahyu memastikan video tersebut merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) dan tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.

“Saya sudah melakukan verifikasi langsung kepada Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau. Memang terjadi erupsi, tetapi video yang beredar dengan semburan api sangat besar dan berulang itu tidak benar. Itu hoaks,” tegasnya.

Ia mengingatkan masyarakat dan media agar selalu melakukan check and recheck sebelum menyebarkan informasi, terutama terkait aktivitas gunung api yang berpotensi memicu kepanikan publik.

“Setiap isu tentang Krakatau meningkat, biasanya selalu muncul video lama atau hasil editan yang diklaim sebagai kejadian terbaru. Masyarakat harus lebih kritis,” katanya.

Belajar dari Tsunami Selat Sunda 2018

Wahyu mengakui aktivitas Gunung Anak Krakatau pernah mencapai eskalasi tinggi pada 2018.

Saat itu erupsi berlangsung sejak pertengahan tahun hingga akhirnya terjadi longsoran tubuh gunung pada Desember yang memicu tsunami nontektonik Selat Sunda.

“Periode paling masif terjadi pada 2018. Erupsi mulai meningkat sejak Juni, kemudian pada Desember terjadi longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami nontektonik di Selat Sunda,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda seperti yang terjadi pada 2018.

Warga Pesisir Terus Dipantau

BPBD Lampung terus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah pesisir yang berpotensi terdampak apabila terjadi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Sedikitnya terdapat 15 desa di pesisir Lampung Selatan yang secara rutin melakukan pemantauan dan komunikasi dengan petugas melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana).

“Masyarakat di desa-desa pesisir terus berkomunikasi dan memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau bersama petugas. Sistem pemantauan tetap berjalan,” ujar Wahyu.

Siapkan Antisipasi Debu Vulkanik

Selain pemantauan aktivitas gunung, BPBD juga menyiapkan langkah antisipasi apabila intensitas erupsi meningkat, salah satunya dengan kemungkinan pembagian masker kepada masyarakat.

Menurut Wahyu, debu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dibanding debu biasa sehingga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan.

“Kalau eskalasi meningkat, kami akan mempertimbangkan pembagian masker untuk mengurangi dampak debu vulkanik. Debu vulkanik memiliki karakteristik yang lebih tajam dibanding debu biasa sehingga perlu diantisipasi,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *