SMA Negeri 1 Kotabumi Rangkul Warga Binaan Lewat Program SMA Terbuka, 15 WBP Kembali Belajar

Kepala SMA Negeri 1 Kotabumi, Media Sari Putri.

Rembes.com, Lampung Utara – Kesempatan kembali mengenyam pendidikan terbuka bagi anak-anak putus sekolah di Kabupaten Lampung Utara.

SMA Negeri 1 Kotabumi resmi ditunjuk sebagai salah satu sekolah induk penyelenggara program SMA Terbuka di Provinsi Lampung.

Bacaan Lainnya

Program yang digagas Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pendidikan ini menyasar anak-anak putus sekolah berusia di bawah 21 tahun agar dapat kembali melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA.

Menariknya, program tersebut tidak hanya menyasar masyarakat umum.

SMA Negeri 1 Kotabumi juga memberikan kesempatan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Rutan Kotabumi untuk kembali mengikuti pendidikan formal.

Kepala SMA Negeri 1 Kotabumi, Media Sari Putri, mengatakan program tersebut mendapat antusiasme cukup tinggi.

Menurutnya, peserta didik SMA Terbuka saat ini mengikuti pembelajaran di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) SMA Negeri 1 Kotabumi maupun di Rutan Kotabumi.

“Alhamdulillah program ini sudah berjalan. Siswa kita ada yang belajar di TKB SMAN 1, ada juga yang merupakan warga binaan di Rutan. Antusiasmenya sangat luar biasa. Bahkan, hampir setiap minggu kita mendapat tambahan siswa baru dari warga binaan Rutan,” ujar Media Sari Putri saat diwawancarai, Rabu (7/10/2026).

Hingga kini, tercatat 8 siswa aktif mengikuti pembelajaran di TKB SMA Negeri 1 Kotabumi.

Sementara itu, sebanyak 15 siswa mengikuti program tersebut dari Rutan Kotabumi.

Untuk peserta didik yang berada di Rutan, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran dengan mendatangkan langsung guru ke lokasi.

“Sistemnya, guru-guru mata pelajaran kita yang berkunjung langsung ke Rutan. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara penuh pada hari Sabtu, dari pagi hingga sore hari menyesuaikan jadwal mereka,” jelasnya.

Meski mengikuti pembelajaran dengan sistem khusus, masa pendidikan peserta SMA Terbuka tetap ditempuh selama tiga tahun seperti sekolah reguler.

“Jadi masa studinya normal seperti sekolah pada umumnya, yakni selama tiga tahun,” kata Media Sari.

Kendala Rekrut Siswa Putus Sekolah

Di balik tingginya antusiasme peserta dari Rutan, SMA Negeri 1 Kotabumi masih menghadapi tantangan untuk menjangkau anak-anak putus sekolah di masyarakat.

Media Sari mengatakan mayoritas peserta didik yang telah terdaftar masih berasal dari wilayah Kotabumi dan daerah sekitarnya.

Pihak sekolah sebenarnya telah melakukan sosialisasi ke sejumlah kecamatan hingga perangkat desa.

Namun, persoalan jarak menjadi salah satu kendala utama.

“Target kita ke depan pasti ingin merekrut sebanyak-banyaknya. Kita sudah menjajaki dan menyosialisasikan program SMA Terbuka ini ke berbagai kecamatan hingga perangkat desa,” ujarnya.

Selain persoalan jarak, sebagian anak putus sekolah diketahui telah bekerja dan berada di luar daerah.

“Umumnya anak-anak putus sekolah ini banyak yang sudah bekerja ke luar daerah,” imbuhnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekolah tengah merencanakan pembentukan sejumlah titik kegiatan belajar di kecamatan yang berdekatan.

Langkah itu diharapkan dapat memperluas jangkauan program sekaligus memudahkan anak-anak putus sekolah mengakses pendidikan tanpa harus datang ke sekolah induk.

Siapkan Inovasi Digital

Tak hanya memperluas akses pendidikan, SMA Negeri 1 Kotabumi juga tengah melakukan pembenahan dari sisi teknologi.

Media Sari mengungkapkan sekolahnya sedang mengembangkan inovasi digital berbasis Smart PC Visualisasi.

Sistem tersebut nantinya diarahkan untuk mendukung pengelolaan sekolah, termasuk sistem absensi yang terintegrasi dengan laman sekolah.

“Ke depan kita juga punya inovasi terbaru dalam pengelolaan sekolah melalui Smart PC Visualisasi, di mana sistem absensi akan terintegrasi langsung ke dalam website,” pungkasnya.

Program SMA Terbuka diharapkan menjadi salah satu jalan bagi anak-anak yang sempat terputus dari pendidikan untuk kembali mendapatkan hak belajar.

Di SMA Negeri 1 Kotabumi, kesempatan itu bahkan diberikan hingga ke balik tembok Rutan, agar status sebagai warga binaan tidak menjadi penghalang untuk kembali bersekolah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *