Enam Calon Rebut Kursi Rektor Unila, Integritas Jadi Ujian

Senat Unila resmi menetapkan dan mengesahkan nomor urut enam calon rektor.

Rembes.com, Bandar Lampung – Kontestasi pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 memasuki babak penting.

Senat Unila resmi menetapkan dan mengesahkan nomor urut enam calon rektor dalam rapat di Gedung Rektorat lantai II, Senin, 19 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Penetapan ini menandai dimulainya fase krusial perebutan kursi pimpinan perguruan tinggi negeri terbesar dan tertua di Lampung tersebut.

Enam kandidat kini berada dalam satu arena kompetisi dengan rekam jejak, pengalaman, dan gagasan kepemimpinan yang akan diuji dalam proses pemilihan.

Berikut nomor urut calon Rektor Unila periode 2027–2031:

1. Prof. Dr. Hamzah, SH, MH, PIA.

2. Dr. Budiyono, SH, MH.

3. Prof. Dr. Warsito, SSi, DEA, PhD.

4. Prof. Dr. Rudy, SH, LLM, LLD.

5. Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, SKed, MKes.

6. Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, SSos, MSi.

Sebelumnya, enam nama tersebut ditetapkan sebagai calon rektor dalam rapat senat pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Kini, pertarungan tidak sekadar menyangkut siapa yang akan menggantikan Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, DEA, IPM, ASEAN Eng, untuk periode berikutnya.

Lebih dari itu, pemilihan ini menjadi momentum untuk menguji arah masa depan Unila apakah mampu memperkuat capaian yang telah diraih sekaligus membenahi persoalan mendasar tata kelola perguruan tinggi.

Bukan Sekadar Suksesi, tetapi Ujian Kepemimpinan

Pergantian rektor merupakan titik penting bagi keberlanjutan institusi akademik. Pemimpin baru tidak cukup hanya meneruskan program pendahulunya, tetapi juga dituntut memastikan setiap kebijakan berjalan dengan integritas, akuntabilitas, dan orientasi pada kepentingan akademik.

Program Unila Be Strong, peningkatan akreditasi, pembangunan Rumah Sakit Pendidikan, penguatan kinerja dosen, hingga diversifikasi pendapatan kampus menjadi sejumlah agenda strategis yang membutuhkan kesinambungan sekaligus evaluasi.

Di tengah persaingan enam kandidat, publik kampus memiliki alasan untuk menaruh perhatian pada kapasitas kepemimpinan, rekam jejak, komitmen terhadap tata kelola yang bersih, serta keberanian membangun budaya akademik yang lebih kuat.

Sebab, reputasi perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh capaian administratif atau peringkat, melainkan juga oleh kualitas keputusan, integritas pemimpin, dan keberpihakan pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Lusmeilia: Demokrasi Kampus Harus Menghasilkan Pemimpin Terbaik

Rektor Unila periode 2023–2027, Lusmeilia Afriani, sebelumnya menyambut positif banyaknya kandidat yang berpartisipasi dalam proses penjaringan rektor.

“Berarti demokrasi berjalan. Semakin ramai dan banyak pilihan untuk yang terbaik,” kata Lusmeilia, Kamis, 3 September 2026.

Ia berharap siapa pun yang terpilih nantinya mampu melanjutkan program Unila Be Strong untuk memperkuat universitas agar semakin unggul dan berdaya saing.

Lusmeilia juga menekankan pentingnya melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Unila hingga tahap operasional sesuai target.

“Siapa pun yang terpilih nantinya, program Unila Be Strong saya untuk membangun Kampus Unila yang lebih kuat, unggul, dan berdaya saing tinggi, bisa diteruskan. Termasuk meneruskan juga pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Unila,” ujarnya.

Harapan tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi rektor berikutnya.

Keberlanjutan program perlu disertai evaluasi yang terukur agar capaian institusi tidak berhenti sebagai angka dalam laporan kinerja, tetapi benar-benar dirasakan sivitas akademika dan masyarakat.

Akreditasi Meningkat, Tantangan Belum Selesai

Lusmeilia memaparkan bahwa selama masa kepemimpinannya, jumlah program studi dengan akreditasi unggul meningkat dari sembilan menjadi 65 dari total 128 program studi.

Jumlah program studi yang memperoleh akreditasi internasional juga meningkat menjadi 23.

“Dari 128 program studi, dari yang awalnya hanya sembilan yang unggul, sekarang sudah 65 atau hampir 70 dalam waktu kurang dari empat tahun,” tuturnya.

Ia turut menyebut peningkatan persentase mahasiswa yang menyelesaikan studi tepat waktu, dari 22 persen menjadi 65 persen.

Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Unila. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan akreditasi berjalan beriringan dengan kualitas pembelajaran, produktivitas riset, pengabdian masyarakat, dan penguatan reputasi akademik.

Bagi rektor terpilih, mempertahankan capaian saja tidak cukup. Diperlukan kebijakan yang mampu menjawab persoalan akademik secara berkelanjutan dan memperkuat posisi Unila dalam persaingan nasional maupun internasional.

Pendapatan Non-UKT dan Kinerja Dosen Jadi Pekerjaan Rumah

Lusmeilia juga menyoroti pentingnya meningkatkan pendapatan universitas di luar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Menurut dia, ketika mulai menjabat, kontribusi pendapatan di luar UKT masih di bawah lima persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 13 persen.

Peningkatan pendapatan non-UKT menjadi salah satu agenda yang perlu diteruskan.

Namun, pengembangannya juga membutuhkan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan institusi.

Di sisi lain, kinerja dosen masih menjadi perhatian. Lusmeilia mengakui bahwa peningkatan kinerja membutuhkan dukungan, pengawasan, serta perubahan pola pikir yang tidak bisa dilakukan secara instan.

Ia menilai perkembangan telah terlihat, tetapi upaya peningkatan tetap harus dilanjutkan.

Persoalan ini menempatkan rektor berikutnya pada tantangan yang tidak ringan membangun budaya kerja akademik yang produktif tanpa mengabaikan kebebasan akademik, etika, dan tanggung jawab institusional.

Integritas Menjadi Ukuran Penting

Penetapan nomor urut enam calon rektor membuka ruang bagi sivitas akademika untuk menilai lebih jauh kapasitas masing-masing kandidat.

Pengalaman, prestasi, dan jabatan akademik merupakan bagian dari rekam jejak, tetapi bukan satu-satunya ukuran kelayakan memimpin universitas.

Integritas, independensi dalam mengambil keputusan, transparansi pengelolaan anggaran, serta keberanian menjaga marwah akademik juga menjadi aspek penting dalam menentukan masa depan Unila.

Pada akhirnya, suksesi rektor bukan semata-mata pergantian figur di pucuk pimpinan.

Ini merupakan kesempatan untuk memastikan universitas dikelola berdasarkan prinsip akademik, tata kelola yang baik, dan kepentingan publik.

Enam kandidat telah memperoleh nomor urut. Pertanyaan berikutnya bukan hanya siapa yang akan terpilih, melainkan siapa yang paling mampu membawa Unila tumbuh sebagai perguruan tinggi yang unggul, berintegritas, dan dipercaya masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *