Aktivitas Anak Krakatau Meningkat, Status Naik Jadi Siaga

Status Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kini menjagi level III (Siaga). Ist.

Rembes.com, Bandar Lampung – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Keputusan itu diambil setelah pemantauan menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir.

Bacaan Lainnya

Peningkatan status didasarkan pada hasil pengamatan visual dan instrumental yang mencatat kenaikan jumlah gempa vulkanik, deformasi tubuh gunung, inflasi, serta indikasi suplai magma menuju permukaan.

Sebelum status dinaikkan, Gunung Anak Krakatau sempat mengalami erupsi pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 14.05 WIB.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung selama 20 detik.

Letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal terlihat jelas dari kawasan sekitar gunung.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan peningkatan aktivitas vulkanik menunjukkan adanya pergerakan magma ke bagian dangkal gunung api.

“Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan,” kata Lana, seperti dikutip Antara, Jumat, 3 Juli 2026.

Menurut Lana, data tiltmeter di sejumlah stasiun pemantauan juga menunjukkan kecenderungan inflasi atau pengembangan tubuh gunung.

Kondisi itu mengindikasikan terjadinya akumulasi tekanan di bawah permukaan yang berpotensi memicu peningkatan aktivitas erupsi.

Dengan status Siaga, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Pembatasan itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi lontaran material pijar maupun erupsi susulan.

Pemerintah juga menghentikan sementara seluruh aktivitas wisata menuju Kepulauan Krakatau, baik melalui jalur Lampung maupun Banten, hingga kondisi dinyatakan aman.

Badan Geologi mengimbau masyarakat di sekitar pesisir Selat Sunda tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah maupun petugas pemantau gunung api.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait diminta memperkuat langkah mitigasi, menyiapkan rencana kontinjensi, dan meningkatkan koordinasi apabila aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali mengalami peningkatan.

Saat ini, pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan selama 24 jam menggunakan jaringan seismik, alat pemantau deformasi, dan pengamatan visual untuk mendeteksi setiap perubahan aktivitas vulkanik secara dini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *