Guncangan Geopolitik dan Peluang Lampung Menjadi Platform Strategis Bisnis Nasional

Prof. Dr. Nairobi Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Lampung. Ilustrasi: Rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Geopolitik global kini tidak lagi berhenti pada ruang diplomasi dan militer.

Geopolitik telah masuk ke ruang ekonomi dan memengaruhi biaya logistik, harga energi, arus modal, serta keputusan investasi.

Bacaan Lainnya

Ketika perang meluas dan rantai pasok terganggu, dampaknya langsung terasa hingga ke daerah produsen.

Dalam situasi seperti ini, Lampung tidak cukup hanya dipahami sebagai gerbang Sumatra. Lampung perlu diposisikan sebagai platform strategis bisnis nasional.

Platform strategis bisnis bukan sekadar kawasan industri, pelabuhan, atau pusat distribusi.

Platform strategis bisnis adalah ruang ekonomi yang menghubungkan produksi, pengolahan, logistik, energi, pasar, dan informasi dalam satu sistem yang saling memperkuat.

Daerah yang menjadi koridor hanya dilewati arus barang. Daerah yang menjadi platform mengatur arus nilai.

Ia tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga mengolahnya, mendistribusikannya, menghubungkannya dengan pasar, serta membaca risiko dan peluang yang datang dari perubahan global.

Karena itu, platform strategis bisnis tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bersifat fungsional.

Dalam konteks itulah Lampung memiliki peluang besar. Tahun 2025, ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 4,57 persen.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi daerah cukup kuat. Inflasi juga tetap terkendali di kisaran 2,5 persen, pengangguran berada pada 4,14 persen, dan angka kemiskinan turun menjadi 9,6 persen.

Namun kekuatan itu belum sepenuhnya berubah menjadi lompatan struktural. Pemerintah provinsi menegaskan bahwa pertumbuhan Lampung masih sangat ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Dengan kata lain, Lampung masih kuat di sektor primer, tetapi belum sepenuhnya kuat dalam meningkatkan nilai tambah.

Masalah utamanya terletak pada rantai nilai. Pemerintah Provinsi Lampung menyebut baru sekitar 30 persen komoditas daerah yang telah dihilirisasi, sedangkan 70 persen sisanya masih dijual dalam bentuk mentah.

Angka ini penting karena menunjukkan dua hal sekaligus. Di satu sisi, Lampung masih tertahan dalam pola lama sebagai pemasok bahan baku. Di sisi lain, Lampung masih memiliki ruang yang sangat besar untuk melompat.

Selama komoditas dijual mentah, sebagian besar nilai tambah akan dinikmati di luar daerah. Lampung menanggung beban produksi dan distribusi, tetapi belum memperoleh manfaat ekonomi secara maksimal.

Karena itu, Lampung perlu bergerak dari logika produksi menuju logika pengendalian nilai. Di sinilah konsep platform strategis bisnis menjadi relevan.

Lampung tidak hanya perlu membangun industri pengolahan, tetapi juga menata hubungan antara lahan produksi, kawasan industri, pelabuhan, jaringan jalan, pasar, dan energi dalam satu ekosistem.

Jika hubungan itu terbangun, maka Lampung tidak lagi bergantung pada volume hasil bumi semata, tetapi mulai memperoleh keuntungan dari efisiensi, kecepatan distribusi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar secara lebih pasti.

Arah itu mulai tampak. Pemerintah provinsi telah menyiapkan empat kawasan industri untuk mendukung hilirisasi, yaitu Rejosari, Ketibung, Way Kanan Industrial Estate, dan Tanggamus Industrial Estate.

Pemerintah juga menyiapkan pengembangan lima kawasan industri yang tersebar di sejumlah wilayah, dengan Way Kanan menjadi salah satu prioritas.

Langkah ini penting karena hilirisasi tidak dapat berjalan tanpa ruang produksi yang terorganisasi. Kawasan industri memberi tempat bagi pengolahan bahan mentah menjadi produk turunan.

Jika sebagian kawasan ini saja berhasil berjalan, Lampung berpeluang menyerap bahan baku dari daerah sendiri sekaligus dari Sumatra bagian selatan.

Penguatan kawasan industri itu akan lebih berarti jika ditopang konektivitas logistik yang baik. Karena itu, rencana koneksi Tol Lematang–Pelabuhan Panjang menjadi sangat strategis.

Selama ini Lampung memiliki posisi geografis yang baik, tetapi keunggulan letak tidak otomatis menghasilkan efisiensi. Platform strategis bisnis mensyaratkan keterhubungan antarsimpul ekonomi.

Artinya, sentra produksi harus terkoneksi dengan jalan tol, kawasan industri harus terhubung dengan pelabuhan, dan pelabuhan harus mampu mempercepat arus barang ke pasar domestik maupun ekspor.

Dalam konteks geopolitik yang penuh ketidakpastian, kepastian distribusi adalah nilai ekonomi yang sangat penting.

Platform strategis bisnis juga menuntut kemampuan membaca perubahan pasar dan arah ekonomi masa depan. Fungsi ini bukan sesuatu yang terpisah dari platform, melainkan bagian dari platform itu sendiri.

Platform yang kuat harus mampu memadukan pergerakan barang dengan informasi, investasi dengan kebutuhan pasar, serta komoditas dengan arah transformasi ekonomi. Karena itu, Lampung tidak cukup hanya membangun infrastruktur keras.

Lampung juga perlu memastikan bahwa ekosistem bisnisnya mampu mengenali perubahan harga energi, pergeseran permintaan global, peluang relokasi industri, dan kebutuhan investasi baru.

Kemampuan membaca dinamika itu merupakan ciri penting dari platform yang matang.

Peluang besar lain muncul pada sektor bioenergi. Pada 2026, proyek bioetanol di Lampung memasuki tahap baru dengan target konstruksi dimulai pada kuartal III.

Investasi proyek ini mencapai sekitar Rp2,5 triliun, dengan kapasitas komersial ditargetkan mencapai 60.000 kiloliter per tahun. Proyek ini penting karena mempertemukan pertanian, industri, dan energi dalam satu rantai nilai.

Di tengah dunia yang semakin rentan terhadap gejolak energi fosil, bioetanol memberi Lampung kesempatan untuk masuk ke ekonomi hijau.

Jika hal ini berhasil dikembangkan, maka Lampung tidak hanya dikenal sebagai lumbung pangan, tetapi juga sebagai basis bioindustri nasional.

Pada akhirnya, guncangan geopolitik memang membawa ancaman, tetapi juga membuka peluang reposisi. Lampung memiliki komoditas, lokasi, pelabuhan, jaringan jalan, dan peluang industri yang cukup untuk naik kelas.

Tantangannya bukan kekurangan potensi, melainkan bagaimana menyatukan seluruh potensi itu ke dalam satu arah pembangunan.

Jika Lampung tetap bertahan sebagai pemasok bahan mentah dan lintasan distribusi, manfaat ekonominya akan tetap terbatas.

Namun jika Lampung mampu membangun dirinya sebagai platform strategis bisnis nasional, maka provinsi ini tidak hanya akan mengalirkan barang, tetapi juga mengendalikan nilai tambah, menarik investasi, dan menentukan peran yang lebih besar dalam ekonomi Indonesia.

Penulis adalah Prof. Dr. Nairobi Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Lampung. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *