Dari Lapangan ke Harapan: Cara Mirza Menenun Mimpi Besar Lampung di PON 2032

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dengan nada santun nan tegas memaparkan kondisi Lampung dihadapkan pemangku kepentingan. Dok: Biro Adpim.

Rembes.com, Bandar Lampung – Di tengah riuh forum nasional di Jakarta, ada satu nada yang terasa berbeda dari suara Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.

Bukan sekadar paparan kesiapan teknis, melainkan cerita tentang mimpi yang lama ditunggu Lampung, untuk pertama kalinya, ingin menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional.

Bacaan Lainnya

Bagi Mirza, PON XXIII tahun 2032 bukan hanya agenda olahraga.

Ia adalah panggung harapan tentang anak-anak muda Lampung yang kelak tumbuh dengan semangat baru, tentang desa-desa yang perlahan tersambung oleh pembangunan, dan tentang identitas daerah yang ingin berdiri sejajar di hadapan Indonesia.

“Ini bukan hanya soal pertandingan. Ini tentang bagaimana kita membangun manusia dan masa depan,” begitu kira-kira pesan yang ingin ia titipkan pada Kamis, (21/5/2026).

Lampung, yang selama ini lebih dikenal sebagai gerbang Sumatera, kini ingin melangkah lebih jauh.

Bersama Banten dalam konsep PON LABA, Mirza melihat kolaborasi bukan sekadar strategi, tetapi cerminan sejarah panjang kedekatan dua wilayah yang pernah dipersatukan oleh semangat perjuangan.

Di balik itu semua, ada nilai-nilai yang tak pernah benar-benar hilang Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, dan Nengah Nyappur cara masyarakat Lampung memuliakan tamu, menyambut perbedaan, dan menjaga kehormatan.

Nilai-nilai inilah yang ingin dihadirkan dalam wajah PON nanti.

Namun mimpi besar selalu berdiri di atas kerja nyata.

Lampung mulai merapikan diri. Dari jalan tol yang menghubungkan ujung-ujung wilayah, pelabuhan yang tak pernah tidur, hingga bandara yang hanya butuh hitungan menit dari Jakarta

. Hotel-hotel, rumah sakit, tenaga medis, hingga pelatih olahraga semuanya perlahan disiapkan, seolah menyambut tamu yang belum datang, tetapi sudah dinantikan.

Di beberapa sudut daerah, harapan itu terasa lebih nyata.

Di Pesisir Barat, ombak Tanjung Setia yang selama ini hanya dikenal peselancar dunia, kini dibayangkan akan menjadi saksi atlet nasional bertarung.

Di Pesawaran dan Pringsewu, ruang-ruang sederhana mulai diproyeksikan menjadi arena kompetisi. Sementara Bandar Lampung disiapkan sebagai jantung perhelatan.

Bagi masyarakat, PON bukan sekadar event. Ia adalah kemungkinan warung yang lebih ramai, penginapan yang terisi, UMKM yang naik kelas, dan anak-anak muda yang punya alasan untuk bermimpi lebih tinggi.

Mirza memahami itu. Karena itulah ia berulang kali menegaskan bahwa dampak terbesar PON bukan saat ia berlangsung, tetapi jauh setelah lampu-lampu arena padam.

“Yang kita bangun hari ini harus tetap hidup setelah 2032,” menjadi semangat yang ia bawa.

Di forum yang sama, dukungan mulai mengalir. Tingkat kesiapan Lampung disebut telah mencapai lebih dari separuh jalan.

Waktu enam tahun ke depan dianggap cukup untuk menyempurnakan segala kekurangan.

Namun lebih dari angka dan data, yang terlihat jelas adalah kesungguhan.

Mirza datang tidak sendiri. Ia membawa serta jajaran penting daerah sebuah simbol bahwa mimpi ini bukan milik satu orang, melainkan komitmen bersama.

Dan mungkin, di sanalah letak kekuatannya.

Karena pada akhirnya, PON 2032 bukan hanya tentang Lampung menjadi tuan rumah.

Ia adalah cerita tentang sebuah daerah yang perlahan percaya bahwa dirinya mampu. Tentang langkah kecil yang disusun menjadi lompatan besar.

Dan di balik semua itu, ada satu keyakinan sederhana bahwa dari tanah yang selama ini menjadi persinggahan, Lampung kini ingin menjadi tujuan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *