Prof. Nairobi Tegaskan Ekspor Tapioka Naik Belum Tentu Sejahterakan Petani

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Prof. Nairobi. Ilustrasi: Rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Prof. Nairobi, menilai peningkatan ekspor tapioka dari Provinsi Lampung belum otomatis berdampak pada kenaikan pendapatan petani singkong di tingkat hulu.

“Ekspor meningkat, tapi belum tentu petani menikmati hasilnya secara signifikan,” kata Prof. Nairobi pada Rabu, (6/5/2026).

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, hingga kini masih terdapat kesenjangan antara kinerja ekspor dan kesejahteraan produsen bahan baku.

Menurut dia, lonjakan ekspor lebih banyak dinikmati pelaku industri pengolahan dan eksportir, sementara petani tetap menghadapi persoalan klasik seperti fluktuasi harga, biaya produksi yang tinggi, serta lemahnya posisi tawar.

“Struktur tata niaga kita belum memberi ruang yang adil bagi petani untuk mendapatkan nilai tambah,” ujarnya.

Prof. Nairobi menuturkan, tanpa skema distribusi nilai tambah yang berpihak kepada petani, peningkatan volume ekspor tidak akan berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan mereka.

Apalagi, ketergantungan petani terhadap tengkulak dan pabrik masih cukup tinggi.

Ia mengakui, ekspor tapioka membuka peluang pasar global dan memperkuat daya saing komoditas singkong Lampung.

Namun, manfaat itu, kata dia, belum sepenuhnya dirasakan petani karena ekosistem produksi dari hulu ke hilir belum dibenahi secara menyeluruh.

“Masalahnya bukan hanya di hilir, tapi juga di hulu harga tidak stabil, kelembagaan petani lemah, dan pola kemitraan belum berjalan optimal,” tutur Prof. Nairobi.

Ia menekankan perlunya intervensi pemerintah, terutama dalam menjaga stabilitas harga singkong serta memperkuat regulasi kemitraan antara petani dan industri agar lebih adil dan transparan.

Selain itu, menurut dia, pengembangan hilirisasi harus diarahkan secara inklusif agar Lampung tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari produk olahan.

“Petani harus dilibatkan dalam rantai industri dan mendapatkan kepastian harga yang layak,” kata dia.

Prof. Nairobi menegaskan, peningkatan ekspor tapioka baru akan berdampak nyata terhadap kesejahteraan petani jika disertai reformasi tata niaga.

“Penguatan kelembagaan petani, serta kebijakan hilirisasi yang melibatkan petani secara aktif dalam rantai nilai industri,” tandas Prof Nairobi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *