Abu GAK Terdeteksi di Bandar Lampung, Udara Masuk Kategori Tak Sehat

Aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai berdampak pada kualitas udara di Bandar Lampung. Foto: Wildan hanafi/rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai berdampak pada kualitas udara di Bandar Lampung.

Hasil pemantauan pada 5-6 September 2026 menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) mencapai 212-224 mikrogram per meter kubik (µg/m³), yang masuk kategori tidak sehat.

Bacaan Lainnya

Selain kualitas udara, pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Lampung menemukan partikel kristal dalam sampel abu vulkanik berukuran sekitar 5-10 mikrometer. Partikel itu berbentuk tidak beraturan dan cenderung tajam.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, karakteristik partikel tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.

“Partikel seperti ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata maupun kulit kita,” kata Jihan saat konferensi pers perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Kantor BPBD Provinsi Lampung pada Senin, (7/9/2026).

Jihan hadir bersama Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan serta sejumlah organisasi perangkat daerah, termasuk Dinas Kesehatan, BPBD, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, BMKG, dan unsur TNI/Polri.

Abu Vulkanik Menyebar

Jihan mengatakan pemerintah mulai meningkatkan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026.

Sehari kemudian, aktivitas vulkanik meningkat dan disusul emisi serta sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah Lampung dan provinsi lainnya.

“Memasuki 5 September, aktivitas vulkanik semakin meningkat dan terjadi emisi, kemudian diikuti dengan sebaran abu vulkanik di beberapa wilayah di Provinsi Lampung dan juga provinsi lainnya,” ujarnya.

Menurut Jihan, dampak erupsi tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu mulai menjangkau sejumlah wilayah lain di Lampung.

Pemerintah, kata dia, kini tidak hanya memantau aktivitas vulkanik, tetapi juga mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Pemeriksaan mikroskopis terhadap sampel abu vulkanik oleh Labkesda Lampung dengan pembesaran 100 kali menemukan partikel kristal berukuran sekitar 5-10 mikrometer.

Partikel tersebut memiliki bentuk tidak beraturan dan cenderung tajam, dengan karakteristik mineral keras dan abrasif seperti silika.

Pemprov Lampung juga mulai menghimpun data gangguan kesehatan dari daerah yang terdampak sebaran abu vulkanik.

Jihan mengatakan terdapat indikasi kenaikan kasus gangguan kesehatan. Namun, pemerintah masih melakukan inventarisasi dan finalisasi data bersama Kementerian Kesehatan.

“Kami melakukan penghimpunan data di sejumlah daerah, memang ada tren kenaikan, tapi hari ini masih dalam tahap inventarisasi data tersebut,” kata Jihan.

Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Pemprov Lampung juga memantau kualitas udara di Bandar Lampung dan wilayah lain yang terdampak abu vulkanik.

Pada 5-6 September, konsentrasi SO₂ di Bandar Lampung dan sekitarnya tercatat berada pada kisaran 212-224 µg/m³. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan sebaran abu vulkanik berpotensi terus berubah mengikuti kondisi atmosfer.

Pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak.

Warga yang harus keluar rumah diminta menggunakan masker, pakaian lengan panjang, dan pelindung mata.

Ventilasi rumah juga disarankan ditutup untuk mengurangi masuknya abu.

Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan atau iritasi pada mata dan kulit diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

GAK Masih Berstatus Siaga

Aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga Senin, 7 September 2026, masih fluktuatif. Gunung tersebut masih berada pada Status Level III atau Siaga.

Pada Ahad, 6 September, pukul 20.23 WIB, terjadi erupsi yang terekam dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi 44 detik.

Dalam periode pengamatan enam jam, tercatat 50 kali gempa Low Frequency, 61 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, dan satu kali Tremor Menerus.

Pada periode 00.00-06.00 WIB Senin, 7 September, tercatat empat kali gempa Hembusan, 17 kali gempa Harmonik, 34 kali gempa Low Frequency, dan 44 kali gempa Hybrid/Fase Banyak.

Adapun pada periode 06.00-12.00 WIB tercatat sembilan kali gempa Harmonik, 17 kali gempa Low Frequency, dua kali gempa Hembusan/Fase Banyak, dan satu kali Tremor Menerus.

Secara visual, Gunung Anak Krakatau tertutup kabut hingga mendung. Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 hingga pukul 10.00 WIB, belum terdeteksi awan panas.

Selain aktivitas vulkanik, dua gempa bumi tercatat di wilayah Selat Sunda pada Senin dini hari.

Gempa pertama berkekuatan magnitudo 3,1 terjadi pukul 00.05 WIB dengan kedalaman 11,7 kilometer.

Gempa berikutnya bermagnitudo 3,0 terjadi pukul 04.18 WIB dengan kedalaman 81,1 kilometer.

Pemprov Lampung memastikan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau, sebaran abu vulkanik, kualitas udara, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat terus dilakukan bersama instansi terkait.

Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari BPBD, BMKG, dan PVMBG serta tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *