NTP Lampung Melonjak ke 130,15, Petani Hortikultura Jadi Penopang

NTP Provinsi Lampung pada Desember 2025 tercatat mencapai 130,15, naik 0,64 persen. Ilustrasi. AI.

Rembes.com, Bandar Lampung – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada Desember 2025 tercatat mencapai 130,15, naik 0,64 persen dibandingkan November 2025.

Kenaikan ini menandai menguatnya daya beli petani di penghujung tahun, meski tidak merata di seluruh subsektor pertanian.

Bacaan Lainnya

Data tersebut dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung dalam Berita Resmi Statistik yang digelar secara daring, Senin, 5 Januari 2026.

Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, M Sabiel Adi Prakasa, menjelaskan bahwa peningkatan NTP didorong oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,56 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga meningkat, namun lebih rendah, yakni 0,91 persen.

“Artinya, kenaikan harga hasil pertanian masih lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya yang dikeluarkan petani,” kata Sabiel.

Secara sektoral, subsektor tanaman hortikultura menjadi penyumbang terbesar dengan lonjakan NTP mencapai 5,64 persen.

Disusul tanaman pangan yang naik 1,62 persen, perikanan tangkap meningkat 0,57 persen, serta peternakan yang naik tipis 0,05 persen.

Namun, tidak semua subsektor bernasib sama. Tanaman perkebunan rakyat justru mengalami penurunan NTP sebesar 0,50 persen, sementara perikanan budidaya turun lebih dalam, yakni 1,06 persen.

Pada periode yang sama, BPS Lampung juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Provinsi Lampung naik 1,35 persen, terutama dipicu oleh lonjakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 2,06 persen.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Lampung pada Desember 2025 tercatat sebesar 135,78, naik 1,87 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 133,29.

Kenaikan NTP dan NTUP ini memberi sinyal perbaikan kesejahteraan petani Lampung di akhir tahun, meski masih menyisakan pekerjaan rumah pada subsektor perkebunan rakyat dan perikanan budidaya yang terus tertekan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *