Transportasi Hijau Masuk Lampung, Taksi Listrik Green SM Targetkan Operasi Ramadan

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal usai rapat percepatan pembentukan ekosistem kendaraan listrik. Dok: Rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung memastikan layanan taksi listrik Green SM akan mulai beroperasi di Kota Bandar Lampung sebagai bagian dari upaya menekan polusi dan mendorong penggunaan energi hijau di sektor transportasi.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan rencana masuknya taksi listrik tersebut dibahas dalam agenda peningkatan layanan transportasi perkotaan, khususnya di Bandar Lampung dan wilayah sekitarnya.

Bacaan Lainnya

“Kami membahas kebutuhan pelayanan transportasi di Lampung, terutama di kawasan perkotaan. Ke depan, kita ingin menurunkan tingkat polusi dan menjaga lingkungan. Karena itu, investasi transportasi berbasis listrik kami dorong masuk ke Lampung,” kata Mirza usai rapat percepatan pembentukan ekosistem kendaraan listrik dan pengembangan stasiun pengisian daya, Selasa, 13 Januari 2026.

Mirza menyebutkan, penggunaan kendaraan listrik di Lampung masih tergolong minim.

Padahal, kebutuhan layanan taksi di wilayah perkotaan diperkirakan mencapai sekitar 4.000 unit.

Saat ini, baru sekitar 2.000 unit yang beroperasi dan seluruhnya masih menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil.

“Kondisi ini yang ingin kita ubah. Pemerintah mendorong pemanfaatan energi hijau agar bisa diimplementasikan secara lebih luas,” ujarnya.

Seiring dengan rencana operasional taksi listrik, pemerintah daerah juga menyiapkan infrastruktur pendukung, terutama Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Saat ini, Lampung memiliki 44 unit SPKLU dan ditargetkan bertambah menjadi 101 unit pada 2026.

“Pengisian daya harus tersedia lebih dulu sebelum jumlah kendaraan bertambah. Tahap awal kami fokuskan di Bandar Lampung dan sekitarnya,” kata Mirza.

Ia menambahkan, ke depan SPKLU ditargetkan tersedia di seluruh 15 kabupaten dan kota di Lampung.

Terkait ketenagakerjaan, Mirza menegaskan pengemudi taksi Green SM harus berasal dari warga lokal, khususnya dari kelompok ekonomi desil 1 hingga 5.

Pemerintah juga menetapkan keterlibatan perempuan minimal 30 persen dari total pengemudi.

Managing Director Green SM Indonesia Deny Tjia mengatakan perusahaannya masih dalam tahap pengurusan perizinan dan legalitas operasional di Bandar Lampung.

Hingga saat ini, layanan Green SM belum beroperasi di Lampung.

“Bandar Lampung berpotensi menjadi kota keempat tempat kami meluncurkan layanan dan yang pertama di Pulau Sumatra,” kata Deny.

Ia menargetkan peluncuran layanan dilakukan pada Ramadan mendatang dengan tahap awal sekitar 400 unit kendaraan listrik yang beroperasi di dalam kota.

Untuk tarif, Deny menyebut masih dalam tahap kajian dan akan disesuaikan dengan kondisi ekonomi daerah serta tingkat persaingan.

“Setiap kota memiliki karakter ekonomi yang berbeda, sehingga tarifnya tidak bisa diseragamkan,” ujarnya.

Deny menambahkan, rata-rata pendapatan pengemudi Green SM saat ini berkisar Rp5,6 juta per bulan.

Pengemudi dengan tingkat keaktifan tinggi berpeluang memperoleh penghasilan hingga Rp11 juta–Rp12 juta per bulan.

Kehadiran taksi listrik ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi transportasi di Lampung menuju sistem yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *