Tiga Daerah di Lampung Masuk Zona Rawan Karhutla, BPBD Siapkan Antisipasi Water Bombing

Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat. Dok: Rembes.com.

Rembes.com, Bandar Lampung – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menetapkan tiga kabupaten sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau tahun ini.

Ketiga daerah tersebut ialah Lampung Timur, Tulangbawang, dan Mesuji.

Bacaan Lainnya

Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan tiga kabupaten itu menjadi prioritas pengawasan karena memiliki luas kawasan hutan dan lahan yang cukup besar, rekam jejak kejadian karhutla yang tinggi pada tahun-tahun sebelumnya, serta medan yang menyulitkan proses pemadaman.

“Daerah lain juga memiliki potensi terjadi karhutla. Namun, tiga wilayah tersebut memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi sehingga kewaspadaannya kami tingkatkan,” kata Wahyu pada Senin, (6/7/2026).

Memasuki musim kemarau, BPBD Lampung mulai mengintensifkan berbagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran.

Salah satunya melalui rapat koordinasi lintas instansi di tingkat provinsi guna menyusun strategi menghadapi bencana hidrometeorologi kering.

Menurut Wahyu, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Lampung telah dimulai sejak Mei 2026.

Meski dalam beberapa hari terakhir masih terjadi hujan di sejumlah wilayah, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk mengurangi kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

“Prediksi dari BMKG musim kemarau sudah dimulai sejak Mei. Meski tadi pagi masih turun hujan, hal itu tidak mengurangi kesiapsiagaan kami terhadap potensi musim kemarau yang ada di depan mata,” ujarnya.

Selain memetakan wilayah rawan, BPBD juga memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops), serta Tim Reaksi Cepat (TRC).

Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi dini apabila muncul titik api di lapangan.

Wahyu mengatakan tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di Lampung adalah lokasi kebakaran yang umumnya berada di kawasan terpencil dan jauh dari akses jalan.

“Biasanya lokasi kebakaran jauh dari akses transportasi sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit,” katanya.

Meski telah meningkatkan kesiapsiagaan, hingga awal Juli 2026 BPBD Lampung belum mencatat adanya kebakaran hutan dan lahan maupun kemunculan titik panas (hotspot) di wilayah tersebut.

“Belum ada kasus karhutla tahun ini. Hotspot juga sejauh ini belum terpantau di Lampung,” ujar Wahyu.

Selain kawasan hutan, BPBD turut mewaspadai potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah yang kerap meningkat saat musim kemarau akibat tingginya suhu dan mudah terbakarnya timbunan sampah.

Sebagai langkah antisipasi apabila situasi berkembang menjadi kondisi darurat, BPBD telah menyiapkan skenario operasi pemadaman melalui udara (water bombing) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Dokumen dan skenario untuk water bombing sudah kami siapkan ke BNPB. Jadi jika kondisi kontingensi terjadi, operasi pemadaman dari udara bisa segera dilakukan,” kata Wahyu.

BPBD mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.

Kewaspadaan dinilai perlu ditingkatkan menjelang puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus yang diperkirakan akan meningkatkan suhu udara dan memperbesar risiko terjadinya karhutla.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *