Telepon Siang Itu Mengubah Segalanya: Zalendra Gugur di Penghujung Latihan Denjaka

Prajurit Satu (Pratu Mar) Zalendra Ferdika telah tiada. Dok: Ist.

Rembes.com, Bandar Lampung – Siang itu, sebuah kabar datang seperti petir di langit yang tenang. Dari seberang telepon, suara lirih mengabarkan sesuatu yang tak pernah disiapkan oleh keluarga, Prajurit Satu (Pratu Mar) Zalendra Ferdika telah tiada.

Bagi Perly Haryadi, ayah Zalendra, kabar itu bukan sekadar informasi. Ia adalah runtuhnya harapan yang selama ini diam-diam dipanjatkan dalam setiap doa.

Bacaan Lainnya

“Anak saya sudah tiada,” ucapnya pelan, Rabu (20/5/2026), mengenang detik saat telepon itu masuk sekitar pukul 12.00 WIBbdisampaikan oleh adik iparnya kepada sang istri.

Zalendra bukan hanya seorang prajurit. Ia adalah anak yang berpamitan dengan sopan sebelum berangkat, meminta restu untuk menapaki jalan yang lebih terjal pendidikan Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), satuan elite TNI Angkatan Laut.

“Iya, sebelum berangkat dia bilang mau ikut pendidikan Denjaka. Kami izinkan,” kata Perly.

Sejak Januari 2026, Zalendra menjalani hari-hari panjang di Bumi Marinir Cilandak. Lima bulan bukan waktu yang singkat.

Ia melewati latihan keras, disiplin ketat, dan ujian fisik yang tak semua orang mampu bertahan.

Hingga akhirnya, ia tiba di tahap akhir titik yang seharusnya menjadi gerbang menuju kebanggaan.

Namun takdir berkata lain.

Beberapa hari sebelum kabar duka itu datang, keluarga sempat menerima pesan bahwa kondisi Zalendra menurun.

“Sempat dikabari kalau kondisinya kurang fit,” ujar Perly. “Tapi kami tidak menyangka akan seperti ini.”

Tak ada penjelasan pasti yang sampai ke keluarga hingga hari ini. Yang tersisa hanya tanya dan duka yang tak punya jeda.

Di Kelurahan Cempedak, Kotabumi, Lampung Utara, nama Zalendra bukan sekadar identitas. Ia dikenal sebagai anak yang ramah, ringan tangan, dan dekat dengan siapa saja.

“Anaknya baik, ramah sama tetangga. Kami semua kehilangan,” kata sang ayah.

Kini, rumah itu menunggu kepulangan yang berbeda.

Bukan lagi langkah tegap seorang prajurit muda, melainkan iring-iringan sunyi yang akan mengantarnya ke peristirahatan terakhir.

Jenazah dijadwalkan tiba malam hari, dan esoknya akan dimakamkan secara militer.

Zalendra adalah satu dari empat siswa pendidikan Denjaka yang gugur. Selain dirinya, tercatat nama-nama lain Praka Mar Moh.

Dani Fauzan dari Situbondo, KLS Mes Markus Seprianus Sakan dari Kupang, dan Praka Mar Zaenal Arifin dari Kediri.

Empat nama. Empat cerita. Empat keluarga yang kini memeluk kehilangan yang sama.

Di balik kerasnya pendidikan pasukan elite, ada harga yang kadang tak tertuliskan nyawa, harapan, dan doa-doa yang tak sempat kembali ke rumah.

Dan di Lampung Utara, seorang ayah masih menunggu bukan lagi kabar, tapi kesempatan terakhir untuk mengantar anaknya pulang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *