Suoh Mencekam, 18 Gajah Liar Bertahan 15 Hari di Permukiman

Sebanyak 18 gajah liar dilaporkan bertahan di sekitar permukiman warga selama 15 hari terakhir tanpa berhasil digiring kembali ke habitatnya. Dok: Warga.

Rembes.com, Lampung Barat – Konflik manusia dengan satwa liar di Kecamatan Suoh kian mengkhawatirkan.

Sebanyak 18 gajah liar dilaporkan bertahan di sekitar permukiman warga selama 15 hari terakhir tanpa berhasil digiring kembali ke habitatnya.

Bacaan Lainnya

Kawanan gajah itu terpantau berada di kawasan Danau Lebar, Pekon Sukamarga. Dalam beberapa hari terakhir, hewan tersebut bahkan terlihat melintasi jalan hingga jembatan di area permukiman, memperlihatkan intensitas pergerakan yang semakin berani.

Pergerakan kawanan gajah tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga merusak sumber penghidupan.

Sejumlah kebun warga dilaporkan terdampak, terutama tanaman produktif seperti singkong dan pisang.

Selain itu, kawanan gajah juga menjadikan kawasan hutan marga sebagai lokasi singgah sementara.

Di Pekon Gunung Ratu, gajah-gajah tersebut dilaporkan merusak pipa saluran air bersih yang menjadi sumber utama kebutuhan warga. Kerusakan ini memperparah situasi dan meningkatkan kekhawatiran masyarakat setempat.

Upaya penghalauan terus dilakukan oleh tim lapangan dari Sahabat Satwa Lembah Suoh bersama warga.

Berbagai metode, mulai dari blokade hingga penggiringan, telah diterapkan. Namun, kawanan gajah dinilai sulit dikendalikan dan tetap bertahan di sekitar permukiman.

Anggota DPRD daerah pemilihan Suoh sekaligus Ketua Sahabat Satwa Lembah Suoh, Sugeng Hari Kinaryo Adi, mengatakan perilaku kawanan gajah kali ini berbeda dari biasanya dan cenderung lebih agresif.

“Gajah ini sangat sulit digiring dan menunjukkan perilaku agresif. Sudah 15 hari bertahan di sekitar Danau Lebar, bahkan sempat merusak kuburan dan rumah warga. Diduga ini dipicu krisis pakan di dalam hutan,” kata Sugeng, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut dia, keterbatasan pakan di habitat alami mendorong kawanan gajah turun ke wilayah permukiman, sehingga menyulitkan proses penggiringan.

Warga mendesak pemerintah melalui Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam segera mengambil langkah penanganan yang lebih konkret.

Mereka khawatir konflik berkepanjangan ini berpotensi menimbulkan korban jiwa serta kerusakan yang lebih luas.

Hingga kini, warga bersama tim masih melakukan ronda malam untuk mengantisipasi pergerakan gajah, terutama di wilayah rawan seperti Pekon Ringin Sari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *