Jalan 30 Tahun Rusak, Syukur Datang di Tahun Anggaran

Groundbreaking dilakukan oleh Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Senin, 6 April 2026. Dok: Biro Adpim.

Rembes.com, Bandar Lampung – Setelah tiga dekade lebih setia pada lubang dan genangan, warga akhirnya menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi jalan diperbaiki sebelum rakyatnya benar-benar lupa bahwa itu memang kewajiban negara.

Ruas Gedong Aji–Umbul Mesir, yang selama ini lebih mirip ujian kesabaran daripada infrastruktur, kini resmi memasuki fase harapan.

Bacaan Lainnya

Groundbreaking dilakukan oleh Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Senin, 6 April 2026 sebuah seremoni yang menandai bahwa penantian panjang kadang memang perlu tanggal resmi untuk diakhiri.

Selama 30 tahun, jalan itu tak hanya rusak, tetapi juga konsisten menjadi bahan cerita turun-temurun.

Dari generasi transmigrasi 1990-an hingga anak-anak mereka, lubang-lubang di sana barangkali lebih dikenal daripada nama program pembangunan itu sendiri.

Tahun ini, Pemerintah Provinsi Lampung mengalokasikan Rp135 miliar untuk membangun 13 kilometer jalan dengan konstruksi beton.

Angka yang terdengar meyakinkan, setidaknya cukup untuk membuat warga percaya bahwa janji pembangunan kini punya bentuk yang lebih padat dari sekadar kata.

Wakil Bupati Tulang Bawang Hankam Hasan menyebut hari itu “luar biasa”.

Mungkin karena dalam standar pengalaman sebelumnya, kehadiran pemerintah di jalan tersebut memang bukan peristiwa yang rutin.

Ia juga menyebut anggaran itu sebagai bentuk keberpihakan.

Pernyataan yang, bagi sebagian warga, mungkin terasa seperti pengakuan halus bahwa keberpihakan memang tidak selalu datang tepat waktu.

Kepala Desa Sumber Agung, Sahel Sa’dullah, mengingat kembali bagaimana jalan itu telah rusak selama puluhan tahun.

Ia bersyukur, sebagaimana warga lainnya sebuah respons yang dalam banyak kasus pembangunan di daerah, lebih sering muncul bukan karena kemewahan hasil, tetapi karena panjangnya penantian.

Warga bahkan berjanji akan menjaga jalan tersebut dari kendaraan bertonase berlebih.

Sebuah komitmen yang terdengar seperti upaya kolektif untuk memastikan sejarah buruk tidak diulang meski sejarah itu sendiri belum sepenuhnya selesai dipahami.

Surati, warga transmigrasi sejak 1990-an, menyebut ini sebagai pertama kalinya jalan diperbaiki.

Kalimat yang sederhana, namun cukup untuk menggambarkan betapa panjang jeda antara kebutuhan dan pemenuhannya.

Di ujung seremoni, pembangunan ini bukan sekadar soal beton dan kilometer.

Ia adalah pengingat bahwa dalam banyak kasus, kebahagiaan warga bisa datang dari sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditunggu selama itu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *